Pakai Ilmu Pelet, Pelajar SMA di Madiun Nodai 10 Gadis - Kasus pencabulan yang menghebohkan Kabupaten Madiun berhasil diungkap jajaran Polres Madiun. Dalam menjalankan aksinya, pemuda yang masih duduk di bangku SMA ini selalu menggunakan ilmu pelet, untuk meniduri para korbannya.
Yang mencengangkan, setiap usai mencabuli para korban yang rata-rata masih pelajar SMP, pelaku selalu menyimpan celana dalam korbannya. Alasannya, celana dalam itu dipakai untuk kenang-kenangan.
"Tersangka seorang pelajar kelas 10 salah satu SMK di Kabupaten Madiun. Diamankan pihak berwajib setelah ada laporan dari salah satu orang tua korbannya," kata AKBP Anom Wibowo, Kapolres Madiun Kota kepada detikcom, Selasa (26/6/2013).
Dari hasil pemeriksaan polisi jelas AKBP Anom, korban pencabulan pelajar SMA ini sebanyak 10 gadis. Korbannya rata-rata masih pelajar SMP.
"Tapi ada kemungkinan bisa lebih dari itu, karena sudah lama dilakukan," ujar mantan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak.
Kepada polisi, pelaku mengaku untuk menaklukkan para korbannya dengan menggunakan ilmu pelet berupa azimat pengasihan.
"Selain pendekatan intensif, untuk merayu mereka saya pakai bulu perindu seharga 50 ribu dari Wonogiri Jawa Tengah. Setelah jadi pacar, saya ajak dia ke hotel. Di sana saya ajak ML, kalau gak mau saya paksa," ucap Danang.
Anehnya, pelaku selalu menyimpan celana dalam (cd) para korbannya yang umumnya masih perawan. "CD mereka saya simpan untuk kenang-kenangan. Semuanya saya olesi darah keperawanan untuk kebanggaan," pungkas pelaku.
Polisi menjerat tersangka menggunakan pasal 81 UU RI Nomor 23 tahun 2002 Perlindungan Anak, tentang persetubuhan anak di bawah umur dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. | detik.com
Tampilkan postingan dengan label Madiun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madiun. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 Juni 2013
Selasa, 25 Juni 2013
Kakek Bau Tanah Tega Menghamili Cucunya
Kakek Bau Tanah Tega Menghamili Cucunya - Wariyo (76), warga Desa Kaliabu Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, tega menggauli cucunya sebut saja kuncup (13) yang masih duduk di bangku SMP, sejak Januari kemarin hingga hamil tiga bulan.
Kanit Reskrim Polsek Mejayan, Aipda Priyo Hariyanto, mengatakan, tersangka diringkus berdasarkan laporan dari orang tua korban, yang tidak terima dengan ulah bejat Wariyo. Dan saat ditangkap tersangka tengah berada di rumahnya.
"Tersangka kita ringkus dirumahnya setelah orang tua korban melaporkan kejadian tersebut ke anggota. Dan saat ini tersangka masih kita periksa secara intensif oleh penyidik," ujarnya, Senin (25/6/2013).
Selama ini korban sering dititipkan di rumah tersangka. Kqarena kedua orang tianya bekerja di sawah hingga sore. Dan malamnya korban selalu tidur bersama dengan ayahnya. Hal tersebut sempat menimbukan kecurigaan jika Kuncup hamil akibat perbuatan ayahnya sendiri.
"Awalnya saya yang dituduh menghamili anak saya sendiri, karena Kuncup tidak mau mengatakan siapa yang menghamili. Namun setelah saya desak ia mengaku jika diperkosa oleh Wariyo," kata ayah korban.
Sementara itu, dihadapan tersangka mengaku jika ia tidak memperkosa cucunya sendiri. Namun perbuatan tersebut dilakukan atas permintaan korban. "Lha wong saya ini dipaksa oleh cucu saya sendiri dan dia (korban.red)minta diajari gituan kok,? ucap tersangka.
Akibat perbuatannya, kini tersangka diamankan di Polsek Mejayan Madiun dan melanggar pasal 81 ayat 1 dan pasal 82 UU nomor 23 tahun 2013 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 16 tahun atau serendah-rendahnya 3 tahun penjara, denda 300 juta rupiah. | beritajatim.com
Kanit Reskrim Polsek Mejayan, Aipda Priyo Hariyanto, mengatakan, tersangka diringkus berdasarkan laporan dari orang tua korban, yang tidak terima dengan ulah bejat Wariyo. Dan saat ditangkap tersangka tengah berada di rumahnya.
"Tersangka kita ringkus dirumahnya setelah orang tua korban melaporkan kejadian tersebut ke anggota. Dan saat ini tersangka masih kita periksa secara intensif oleh penyidik," ujarnya, Senin (25/6/2013).
Selama ini korban sering dititipkan di rumah tersangka. Kqarena kedua orang tianya bekerja di sawah hingga sore. Dan malamnya korban selalu tidur bersama dengan ayahnya. Hal tersebut sempat menimbukan kecurigaan jika Kuncup hamil akibat perbuatan ayahnya sendiri.
"Awalnya saya yang dituduh menghamili anak saya sendiri, karena Kuncup tidak mau mengatakan siapa yang menghamili. Namun setelah saya desak ia mengaku jika diperkosa oleh Wariyo," kata ayah korban.
Sementara itu, dihadapan tersangka mengaku jika ia tidak memperkosa cucunya sendiri. Namun perbuatan tersebut dilakukan atas permintaan korban. "Lha wong saya ini dipaksa oleh cucu saya sendiri dan dia (korban.red)minta diajari gituan kok,? ucap tersangka.
Akibat perbuatannya, kini tersangka diamankan di Polsek Mejayan Madiun dan melanggar pasal 81 ayat 1 dan pasal 82 UU nomor 23 tahun 2013 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 16 tahun atau serendah-rendahnya 3 tahun penjara, denda 300 juta rupiah. | beritajatim.com
Sabtu, 22 Juni 2013
Panggung Ambruk Saat Gladi Bersih Pembukaan Porprov Jatim di Stadion Wilis Madiun
Panggung Ambruk Saat Gladi Bersih Pembukaan Porprov Jatim di Stadion Wilis Madiun - Sebanyak 30 siswa paduan suara dilarikan ke RSU Soedono Madiun. Menyusul tragedi ambruknya panggung konser Porprov Jatim 2013 di Stadion Wilis, Kota Madiun, Sabtu (22/6/2013).
Selain itu, puluhan siswa lainnya dilarikan ke RS Sogaten Pemkot Madiun. Sedikitnya, 9 siswa mengalami patah tulang, di kaki dan tangan. Lima ada di RSU Soedono, sedang sisanya di RS Sogaten.
"Mereka dispaleg ada yang di tangan, ada yang di kaki," ujar Kepala UGD RSU Soedono, dr Nanang Budi Waluyo.
Sedang puluhan siswa yang mengalami luka ringan langsung dibawa pulang keluarganya. "Tadi yang dibawa ke sini sekitar 30-an anak," katanya.
Sementara Novia, siswa SMAN 1 Kota Madiun menyatakan, usai gladi bersih, para siswa hendak membubarkan diri. Para siswa yang berasal dari SMA dan SMK se Kota Madiun ini sejak pagi melakukan gladi bersih paduan suara dan koreografi.
"Tadi setelah gladi bersih teman-teman bubaran dan maju ke depan. Tiba-tiba braak, panggung ambruk," ujar Novia.
Hal serupa juga diungkapkan Riza, begitu terdengar suara krak, maka teman-temannya berjatuhan ke bawah. "Saya tadi juga ketindihan teman," katanya. Tampak, kaki kanannya mulai bengkak. Diduga kakinya terkilir akibat insiden ini.
Di halaman gedung UGD RS Soedono Kota Madiun tampak ramai. Selain para siswa, teman-teman dari korban panggung ambruk, juga tampak keluarga dan para guru. Bahkan, beberapa siswa tampak menangis. Selain karena shock, dia juga tak tega melihat kaki temannya patah.
Demikian juga dengan Silvi. Dia hanya diam tertunduk di kursi tunggu depan ruang UGD. Kaos olahraga sekolahnya tampak penuh bercak darah di bagian punggung. "Kepala saya bocor. Gak tahu kena apa. Ini juga masih pening," katanya.
Ia jatuh bersama puluhan temannya begitu panggung Porprov Jatim ambruk. Panggung yang sedianya dipakai untuk konser Ahmad Dhani dan TRIAD, saat pembukaan Porprov Jatim Sabtu malam.
Selain itu, puluhan siswa lainnya dilarikan ke RS Sogaten Pemkot Madiun. Sedikitnya, 9 siswa mengalami patah tulang, di kaki dan tangan. Lima ada di RSU Soedono, sedang sisanya di RS Sogaten.
"Mereka dispaleg ada yang di tangan, ada yang di kaki," ujar Kepala UGD RSU Soedono, dr Nanang Budi Waluyo.
Sedang puluhan siswa yang mengalami luka ringan langsung dibawa pulang keluarganya. "Tadi yang dibawa ke sini sekitar 30-an anak," katanya.
Sementara Novia, siswa SMAN 1 Kota Madiun menyatakan, usai gladi bersih, para siswa hendak membubarkan diri. Para siswa yang berasal dari SMA dan SMK se Kota Madiun ini sejak pagi melakukan gladi bersih paduan suara dan koreografi.
"Tadi setelah gladi bersih teman-teman bubaran dan maju ke depan. Tiba-tiba braak, panggung ambruk," ujar Novia.
Hal serupa juga diungkapkan Riza, begitu terdengar suara krak, maka teman-temannya berjatuhan ke bawah. "Saya tadi juga ketindihan teman," katanya. Tampak, kaki kanannya mulai bengkak. Diduga kakinya terkilir akibat insiden ini.
Di halaman gedung UGD RS Soedono Kota Madiun tampak ramai. Selain para siswa, teman-teman dari korban panggung ambruk, juga tampak keluarga dan para guru. Bahkan, beberapa siswa tampak menangis. Selain karena shock, dia juga tak tega melihat kaki temannya patah.
Demikian juga dengan Silvi. Dia hanya diam tertunduk di kursi tunggu depan ruang UGD. Kaos olahraga sekolahnya tampak penuh bercak darah di bagian punggung. "Kepala saya bocor. Gak tahu kena apa. Ini juga masih pening," katanya.
Ia jatuh bersama puluhan temannya begitu panggung Porprov Jatim ambruk. Panggung yang sedianya dipakai untuk konser Ahmad Dhani dan TRIAD, saat pembukaan Porprov Jatim Sabtu malam.
Rabu, 19 Juni 2013
Hasil Hitung Cepat Atau Quick Count Pemilihan Bupati Kabupaten Madiun
Hasil Hitung Cepat Atau Quick Count Pemilihan Bupati Kabupaten Madiun - Lembaga Survei Proximity (research, strategy and political consulting) mengumumkan hasil quick count untuk pemilukada Kabupaten Madiun yang digelar Rabu (19/6/2013) hari ini.
Hasil quick count pemilukada Kabupaten Madiun 100 persen data masuk, pasangan incumbent Muhtarom-Iswanto (Muis) yang diusung PKB dan Partai Demokrat 56,8 persen, pasangan independen Widi Proyanto-Soentoro (Wiro) 1,7 persen, pasangan PDIP dan Golkar Sukiman-Suprapto 39,93 persen dan pasangan PKNU-Patriot-PDK Soemardi-Dimyati Dahlan (Sehati) 1,57 persen. Partisipasi pemilih mencapai 68,71 persen.
"Incumbent memang popularitasnya tinggi dibandingkan pasangan lain. Kinerja lima tahun memimpin memang baik, beliau juga dermawan dan selalu sambang desa alias turun bawah," kata Dirut Proximity Whima Edi Nugroho kepada wartawan di RM Agis Surabaya.
Sekadar diketahui, Muhtarom meniti karir politik dari kursi legislatif di tahun 1998, menjadi wakil bupati pada tahun 2003-2008 dan menjadi bupati sejak 2008 hingga 2013 ini. Iswanto merupakan pensiunan PNS yang mengawali karir sebagai staf Inspektorat Provinsi Jatim di tahun 1974.
Sempat menjadi Kepala Inspektorat Magetan di tahun 1988-1997, menjabat Sekda Kabupaten Mojokerto pada 1997-2001 dan menjadi Sekdakab Madiun pada 2001-2007. Karir terakhir menjadi wakil bupati Madiun sejak 2008 hingga saat ini. | beritajatim.com
Hasil quick count pemilukada Kabupaten Madiun 100 persen data masuk, pasangan incumbent Muhtarom-Iswanto (Muis) yang diusung PKB dan Partai Demokrat 56,8 persen, pasangan independen Widi Proyanto-Soentoro (Wiro) 1,7 persen, pasangan PDIP dan Golkar Sukiman-Suprapto 39,93 persen dan pasangan PKNU-Patriot-PDK Soemardi-Dimyati Dahlan (Sehati) 1,57 persen. Partisipasi pemilih mencapai 68,71 persen.
"Incumbent memang popularitasnya tinggi dibandingkan pasangan lain. Kinerja lima tahun memimpin memang baik, beliau juga dermawan dan selalu sambang desa alias turun bawah," kata Dirut Proximity Whima Edi Nugroho kepada wartawan di RM Agis Surabaya.
Sekadar diketahui, Muhtarom meniti karir politik dari kursi legislatif di tahun 1998, menjadi wakil bupati pada tahun 2003-2008 dan menjadi bupati sejak 2008 hingga 2013 ini. Iswanto merupakan pensiunan PNS yang mengawali karir sebagai staf Inspektorat Provinsi Jatim di tahun 1974.
Sempat menjadi Kepala Inspektorat Magetan di tahun 1988-1997, menjabat Sekda Kabupaten Mojokerto pada 1997-2001 dan menjadi Sekdakab Madiun pada 2001-2007. Karir terakhir menjadi wakil bupati Madiun sejak 2008 hingga saat ini. | beritajatim.com
Rabu, 12 Juni 2013
Pentol Corah, Pentol Super Pedas Asal Madiun
Pentol Corah, Pentol Super Pedas Asal Madiun - Bagi anda yang pecinta citra rasa pedas, tak ada salahnya anda untuk mecoba makanan yang satu ini. Memang dari bentuk dan rasa tidak ada yang istimewa, akan tetapi saus sambal pelengkap makanan ini cukup membuat anda pecinta citra rasa pedas cukup terpuaskan.
Pentol corah, itulan nama makanan tersebut. Makanan khas Madiun ini memang sudah sangat digandrungi oleh banyak orang, apalagi oleh anak-anak remaja. Nama Corah diambil dari nama sebuah daerah di Kota Madiun yang merupakan tempat pertama kalinya pentol ini dijual yaitu daerah Corah, yaitu suatu kawasan yang berada di Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Kartoharjo Madiun.
Pentol corah memang hampir mirip dengan pentol-pentol biasa yang biasa kita sebut cilok, yaitu makanan yang terbuat dari tepung terigu yang di campur dengan berbagai macam bumbu yang kemudian di campur denga air dan dibentuk bulat-bulat yang kemudian direbus. Biasanya dalam penyajianya dengan saus tomat, saus sambal ataupun sambal kacang bercampur kecap.
Namun perbedaan pentol corah dan pentol cilok terletak pada proses pembuatanya yaitu adonan tepung terigu dimasukan ke dalam kulit tahu yang kemudian baru dikukus dan di potong-potong berbentuk dadu. Untuk bumbu sambalnya juga berbeda dengan pentol cilok biasa yang umumnya memakai saus sambal atau sambal kacang.
Bumbu pembuat sambal yang menghasilkan citra rasa super pedas pentol corah memang menjadi rahasia dari masing masing penjual sehingga bisa di bilang rahasia pentol corah tersebut terletak pada bumbu sambalnya.
?Kalau pentol corah di daerah di mana-mana sama saja, namun yang membedakan itu sambalnya. Rasa boleh sama pedasnya tapi nikmatnya sambal antara penjual satu dengan yang lain pasti beda,? Ujar Bu Tutik, salah satu penjual pentol corah di daerah Corah Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Kartoharjo Madiun yang telah berjualan petol corah hampir 15 tahun.
Jika Penasaran ingin sekedar mencoba atau ingin menjadi penikmat Pentol corah atau anak muda menyebutnya pentol lidah api ini, maka jangan membelinya disembarang tempat. Tapi datanglah langsung di tempat asalnya yaitu di daerah Corah Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Kartoharjo Madiun atau di sekitaran daerah Pasar Njoyo.
Memang tempat berjualannya jauh dari keramaian kota dan untuk mencapainya masih harus masuk ke jalan kecil tapi anda tidak akan kecewa karena rasa Pentol corah yang terdapat di daerah ini sangatlah mantap sekali dan tentu sangat berbeda jauh dengan yang diperjualkan di pinggi-pinggir jalan
.
Untuk menikmati sepiring Pentol corah anda tak perlu merogoh saku yang sangat dalam karena harga cukup terjangkau, hanya bermodal uang 10.000 rupiah, anda bisa menikmati sensasi sepiring pedasnya pentol corah madiun plus 2 bungkus kerupuk dan 2 gelas es plus uang parkir
Bagi anda yang baru pertama merasakan pedasnya, jangan khawatir akan efek sampinya, efek sampingnya cuman bikin ketagihan saja. Tapi tidak di sarankan untuk anda yang kena penyakit asam lambung atau sensitif dengan yang pedas pedas, karena bisa bisa anda opname di UGD karena kepedesannya.
Pentol corah, itulan nama makanan tersebut. Makanan khas Madiun ini memang sudah sangat digandrungi oleh banyak orang, apalagi oleh anak-anak remaja. Nama Corah diambil dari nama sebuah daerah di Kota Madiun yang merupakan tempat pertama kalinya pentol ini dijual yaitu daerah Corah, yaitu suatu kawasan yang berada di Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Kartoharjo Madiun.
Pentol corah memang hampir mirip dengan pentol-pentol biasa yang biasa kita sebut cilok, yaitu makanan yang terbuat dari tepung terigu yang di campur dengan berbagai macam bumbu yang kemudian di campur denga air dan dibentuk bulat-bulat yang kemudian direbus. Biasanya dalam penyajianya dengan saus tomat, saus sambal ataupun sambal kacang bercampur kecap.
Namun perbedaan pentol corah dan pentol cilok terletak pada proses pembuatanya yaitu adonan tepung terigu dimasukan ke dalam kulit tahu yang kemudian baru dikukus dan di potong-potong berbentuk dadu. Untuk bumbu sambalnya juga berbeda dengan pentol cilok biasa yang umumnya memakai saus sambal atau sambal kacang.
Bumbu pembuat sambal yang menghasilkan citra rasa super pedas pentol corah memang menjadi rahasia dari masing masing penjual sehingga bisa di bilang rahasia pentol corah tersebut terletak pada bumbu sambalnya.
?Kalau pentol corah di daerah di mana-mana sama saja, namun yang membedakan itu sambalnya. Rasa boleh sama pedasnya tapi nikmatnya sambal antara penjual satu dengan yang lain pasti beda,? Ujar Bu Tutik, salah satu penjual pentol corah di daerah Corah Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Kartoharjo Madiun yang telah berjualan petol corah hampir 15 tahun.
Jika Penasaran ingin sekedar mencoba atau ingin menjadi penikmat Pentol corah atau anak muda menyebutnya pentol lidah api ini, maka jangan membelinya disembarang tempat. Tapi datanglah langsung di tempat asalnya yaitu di daerah Corah Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Kartoharjo Madiun atau di sekitaran daerah Pasar Njoyo.
Memang tempat berjualannya jauh dari keramaian kota dan untuk mencapainya masih harus masuk ke jalan kecil tapi anda tidak akan kecewa karena rasa Pentol corah yang terdapat di daerah ini sangatlah mantap sekali dan tentu sangat berbeda jauh dengan yang diperjualkan di pinggi-pinggir jalan
.
Untuk menikmati sepiring Pentol corah anda tak perlu merogoh saku yang sangat dalam karena harga cukup terjangkau, hanya bermodal uang 10.000 rupiah, anda bisa menikmati sensasi sepiring pedasnya pentol corah madiun plus 2 bungkus kerupuk dan 2 gelas es plus uang parkir
Bagi anda yang baru pertama merasakan pedasnya, jangan khawatir akan efek sampinya, efek sampingnya cuman bikin ketagihan saja. Tapi tidak di sarankan untuk anda yang kena penyakit asam lambung atau sensitif dengan yang pedas pedas, karena bisa bisa anda opname di UGD karena kepedesannya.
Senin, 22 April 2013
Seorang Bapak di Madiun Tega Perkosa Anak Kandungnya Sendiri
Seorang Bapak di Madiun Tega Perkosa Anak Kandungnya Sendiri - Kasat Reskrim Polres Madiun, AKP Edi Susanto mengatakan, kejadian perkosaan tersebut terjadi Minggu (21/4/2013) sore. Saat itu korban AM (18) yang hendak mandi tengah mengambil baju di lemari yang ada di dalam kamar.
"Tersangka melihat anaknya mengambil baju. Kemudian ia langsung menghampiri korban dan memaksanya untuk melakukan hubungan layaknya suami istri. Namun korban sempat berusaha memberontak dan berteriak," ujarnya, Senin (22/4/2013).
Korban akhirnya pasrah setelah tersangka mengancam akan membunuhnya dengan menggunakan pisau dapur jika tidak mau melayani atau melaporkan kejadian ini ke orang lain. Setelah diperkosa korban yang ketakutan akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek setempat malam harinya.
"Dari laporan tersebut petugas langsung menangkapnya di rumah tersangka. Sebelumnya korban sempat membantah telah memperkosa korban. Namun setelah petugas menemukan bercak sperma di atas tempat tidur tersangka tidak bisa mengelak lagi," kata Edi.
Kepada petugas, tersangka mengaku gelap mata saat melihat tubuh putrinya yang sudah lulus sekolah tersebut. Apa lagi sejak ditinggal istrinya berkeja di Jember enam bulan lalu dia mengaku tidak pernah berhubungan seksual dengan istri.
Petugas akan menjeratnya dengan pasal 46 UU KDRT dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara. "Tapi kita masih mencari dokumen korban. Jika usianya saat perkosaan masih belum genap 18 tahun tersangka akan kita jerat juga dengan pasal perlindungan anak," tegas Edi. | beritajatim.com
"Tersangka melihat anaknya mengambil baju. Kemudian ia langsung menghampiri korban dan memaksanya untuk melakukan hubungan layaknya suami istri. Namun korban sempat berusaha memberontak dan berteriak," ujarnya, Senin (22/4/2013).
Korban akhirnya pasrah setelah tersangka mengancam akan membunuhnya dengan menggunakan pisau dapur jika tidak mau melayani atau melaporkan kejadian ini ke orang lain. Setelah diperkosa korban yang ketakutan akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek setempat malam harinya.
"Dari laporan tersebut petugas langsung menangkapnya di rumah tersangka. Sebelumnya korban sempat membantah telah memperkosa korban. Namun setelah petugas menemukan bercak sperma di atas tempat tidur tersangka tidak bisa mengelak lagi," kata Edi.
Kepada petugas, tersangka mengaku gelap mata saat melihat tubuh putrinya yang sudah lulus sekolah tersebut. Apa lagi sejak ditinggal istrinya berkeja di Jember enam bulan lalu dia mengaku tidak pernah berhubungan seksual dengan istri.
Petugas akan menjeratnya dengan pasal 46 UU KDRT dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara. "Tapi kita masih mencari dokumen korban. Jika usianya saat perkosaan masih belum genap 18 tahun tersangka akan kita jerat juga dengan pasal perlindungan anak," tegas Edi. | beritajatim.com
Selasa, 16 April 2013
Foto: Lokomotif CC 300 Tahan Banjir Buatan PT INKA
Foto: Lokomotif CC 300 Tahan Banjir Buatan PT INKA - Masalah banjir kerap kali menjadi hambatan bagi sektor transportasi publik, terutama kereta api. Sulitnya medan akibat lintasan rel yang digenangi air membuat kereta api susah melaju. Untunglah, mulai bulan depan masalah banjir bisa diatasi dengan lokomotif CC 300 yang tahan banjir, produksi PT Industri Kereta Api (INKA).
Proyek pembuatan lokomotif ini cukup membanggakan karena diproduksi sepenuhnya oleh dalam negeri melalui kerjasama antara PT INKA dan Kementrian Perhubungan. Dengan anggaran sebesar hampir 30 miliar rupiah dari pemerintah, PT INKA menjanjikan bahwa lokomotif ini sanggup melaju di atas genangan 1 meter air.
Agus Purnomo, direktur utama INKA, menjelaskan bahwa kemampuan lokomotif ini didukung oleh diesel hidrolik yang menyatu dalam sistem listrik. Selama 3 tahun, PT INKA telah mengembangkan 3 unit lokomotif tahan banjir tersebut. Kini, 1 unit telah siap sementara sisanya masih dalam proses finishing.
Kabarnya, produk anak negeri ini juga siap ditawarkan ke pasar internasional. Menilik dari kekuatan 2200 tenaga kuda, lokomotif CC 300 layak memang layak untuk digunakan oleh negara dengan potensi banjir yang tinggi.
Proyek pembuatan lokomotif ini cukup membanggakan karena diproduksi sepenuhnya oleh dalam negeri melalui kerjasama antara PT INKA dan Kementrian Perhubungan. Dengan anggaran sebesar hampir 30 miliar rupiah dari pemerintah, PT INKA menjanjikan bahwa lokomotif ini sanggup melaju di atas genangan 1 meter air.
Agus Purnomo, direktur utama INKA, menjelaskan bahwa kemampuan lokomotif ini didukung oleh diesel hidrolik yang menyatu dalam sistem listrik. Selama 3 tahun, PT INKA telah mengembangkan 3 unit lokomotif tahan banjir tersebut. Kini, 1 unit telah siap sementara sisanya masih dalam proses finishing.
Kabarnya, produk anak negeri ini juga siap ditawarkan ke pasar internasional. Menilik dari kekuatan 2200 tenaga kuda, lokomotif CC 300 layak memang layak untuk digunakan oleh negara dengan potensi banjir yang tinggi.
Minggu, 14 April 2013
Dipacitan Naskah Ujian Nasional Diangkut Dengan Sepeda Motor
Dipacitan Naskah Ujian Nasional Diangkut Dengan Sepeda Motor - Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Rudi Haryanto, mengatakan pihaknya menyiapkan sejumlah sepeda motor untuk menyalurkan naskah soal ujian nasional (UN) sekolah menengah atas dan sederajat di wilayah rawan bencana longsor.
"Jika terjadi longsor dan medannya tidak mungkin dilalui mobil, maka akan menggunakan sepeda motor," kata Rudi, Ahad, 14 April 2013.
Di Kabupaten Pacitan, setidaknya terdapat lima kecamatan yang rawan bencana longsor. Sebab, karakteristik wilayahnya bergunung dan berbukit curam. Pada saat curah hujan yang tinggi, berpotensi terjadi bencana tanah longsong. Lima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Bandar, Nawangan, Tegalombo, Tulakan, dan Kecamatan Ngadirojo.
Dinas Pendidikan telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian berkaitan dengan pendistribusian naskah soal UN ke daerah-daerah yang rawan bencana.
Pelaksanaan UN untuk tingkat SMA dan sederajat di Pacitan akan berlangsung Senin hingga Kamis, 15-18 April 2013. Hari ini naskah ujian yang disimpan di Markas Kepolisian Resor Pacitan sedang disalurkan ke markas kepolisian sektor tingkat kecamatan.
Sementara itu, jajaran Kepolisian Resor Pacitan melibatkan 184 personel dalam pengamanan dan pendistribusian naskah UN SMA. Tak hanya mengawal distribusi, polisi disiagakan menjaga naskah UN ketika berada di mapolres maupun mapolsek.
"Penjagaan dilakukan selama 24 jam dengan sistem sif," ucap Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Pacitan Komisaris Polisi Kustono.
"Jika terjadi longsor dan medannya tidak mungkin dilalui mobil, maka akan menggunakan sepeda motor," kata Rudi, Ahad, 14 April 2013.
Di Kabupaten Pacitan, setidaknya terdapat lima kecamatan yang rawan bencana longsor. Sebab, karakteristik wilayahnya bergunung dan berbukit curam. Pada saat curah hujan yang tinggi, berpotensi terjadi bencana tanah longsong. Lima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Bandar, Nawangan, Tegalombo, Tulakan, dan Kecamatan Ngadirojo.
Dinas Pendidikan telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian berkaitan dengan pendistribusian naskah soal UN ke daerah-daerah yang rawan bencana.
Pelaksanaan UN untuk tingkat SMA dan sederajat di Pacitan akan berlangsung Senin hingga Kamis, 15-18 April 2013. Hari ini naskah ujian yang disimpan di Markas Kepolisian Resor Pacitan sedang disalurkan ke markas kepolisian sektor tingkat kecamatan.
Sementara itu, jajaran Kepolisian Resor Pacitan melibatkan 184 personel dalam pengamanan dan pendistribusian naskah UN SMA. Tak hanya mengawal distribusi, polisi disiagakan menjaga naskah UN ketika berada di mapolres maupun mapolsek.
"Penjagaan dilakukan selama 24 jam dengan sistem sif," ucap Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Pacitan Komisaris Polisi Kustono.
Jumat, 12 April 2013
Bahan Bakar Solar Mulai Langka di Madiun
Bahan Bakar Solar Mulai Langka di Madiun - Solar di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Madiun dan sekitar mulai langka. Kelangkaan solar ini disebabkan berkurangnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar dari Pertamina.
Pantauan Surya.co.id, Selasa (9/4) siang, beberapa SPBU ini memajang tulisan "Solar Kosong" di papan yang diletakkan di depan mesin pompa BBM.
Beberapa SPBU yang kosong Solar ini, yaksi SPBU Joyo, SPBU Nglames, SPBU Uteran, SPBU Demangan, SPBU depan RRI, SPBU Mojopurno dan SPBU Sangen, dan SPBU Klitik, Wonoasri, Kabupaten Madiun.
Pengawas SPBU Klitik Sumono menyatakan, kelangkaan terjadi sudah sepekan ini. Kuotanya turun menjadi hanya 8 KL saja, sehingga tidak mencukupi permintaan pasar. Akibatnya, SPBU ini harus mengurangi pembelian oleh konsumennya.
?Pembatasan ini untuk pemerataan saja. Lha mau bagaimana, biasanya kami dapat jatah Delivery Order (DO) dari Pertamina 16 KL, tapi sekarang yang kami terima hanya 8 KL saja,? ujar Sumono.
Demikian pula di SPBU Joyo, Kota Madiun. Mereka juga mendapatkan jatah 8 KL. Sementara permintaan meningkat.
"Banyak yang datang, tapi karena masih kosong, terpaksa balik," kata salah satu petugas SPBU.
Kelangkaan solar ini juga dikeluhkan pengemudi. Mereka terganggu akibat ketiadaan solar ini. seperti diakui Aris, salah satu pengemudi truk perusahaan ekspedisi. Ia harus muter-muter ke beberapa SPBU untuk mencari solar.
"Sudah kehabisan solar. Saya sudah cari di beberapa SPBU tidak ada. Malah truk saya mogok ini,? katanya.
Sehari kemarin, ia terpaksa tidur di dalam truk karena kendaraan yang biasa dikemudikannya tersebut tidak bisa lagi dihidupkan. Menurutnya, jika pun ada solar, pembeliannya pun hanya dibatasi Rp 100.000 per SPBU.
"Mereka tak memberi lebih, katanya biar rata ke para pelanggannya," ujar dia.
Pantauan Surya.co.id, Selasa (9/4) siang, beberapa SPBU ini memajang tulisan "Solar Kosong" di papan yang diletakkan di depan mesin pompa BBM.
Beberapa SPBU yang kosong Solar ini, yaksi SPBU Joyo, SPBU Nglames, SPBU Uteran, SPBU Demangan, SPBU depan RRI, SPBU Mojopurno dan SPBU Sangen, dan SPBU Klitik, Wonoasri, Kabupaten Madiun.
Pengawas SPBU Klitik Sumono menyatakan, kelangkaan terjadi sudah sepekan ini. Kuotanya turun menjadi hanya 8 KL saja, sehingga tidak mencukupi permintaan pasar. Akibatnya, SPBU ini harus mengurangi pembelian oleh konsumennya.
?Pembatasan ini untuk pemerataan saja. Lha mau bagaimana, biasanya kami dapat jatah Delivery Order (DO) dari Pertamina 16 KL, tapi sekarang yang kami terima hanya 8 KL saja,? ujar Sumono.
Demikian pula di SPBU Joyo, Kota Madiun. Mereka juga mendapatkan jatah 8 KL. Sementara permintaan meningkat.
"Banyak yang datang, tapi karena masih kosong, terpaksa balik," kata salah satu petugas SPBU.
Kelangkaan solar ini juga dikeluhkan pengemudi. Mereka terganggu akibat ketiadaan solar ini. seperti diakui Aris, salah satu pengemudi truk perusahaan ekspedisi. Ia harus muter-muter ke beberapa SPBU untuk mencari solar.
"Sudah kehabisan solar. Saya sudah cari di beberapa SPBU tidak ada. Malah truk saya mogok ini,? katanya.
Sehari kemarin, ia terpaksa tidur di dalam truk karena kendaraan yang biasa dikemudikannya tersebut tidak bisa lagi dihidupkan. Menurutnya, jika pun ada solar, pembeliannya pun hanya dibatasi Rp 100.000 per SPBU.
"Mereka tak memberi lebih, katanya biar rata ke para pelanggannya," ujar dia.
Minggu, 07 April 2013
Madiun Banjir, Lima Korban Dievakuasi ke RS
Madiun Banjir, Lima Korban Dievakuasi ke RS - Sebanyak lima orang korban banjir kiriman di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Jawa Timur, dievakuasi oleh petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat ke rumah sakit.
Petugas BPBD Kota Madiun, Janus, Minggu (7/4) malam, mengatakan bahwa lima korban banjir tersebut adalah seorang yang sudah lanjut usia, seorang balita, dan tiga orang dewasa.
"Para korban itu dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan medis, namun setelah itu keadaan mereka membaik dan dibawa ke rumah saudara masing-masing," ujar dia.
Menurut Janus, kelima korban tersebut dievakuasi ke rumah sakit karena mengalami sakit dan dalam kondisi kedinginan. Selain itu, ketinggian air di dalam rumah mereka sudah mencapai sekitar 50 sentimeter.
Petugas gabungan dari BPBD, PMI, tim relawan, dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Madiun hingga Senin dini hari masih bersiaga guna mengantisipasi naiknya air.
Wali Kota Madiun Bambang Irianto membenarkan adanya lima orang warganya yang dievakuasi ke rumah sakit. Namun ia mengaku belum mengetahui secara pasti kondisi kelima orang tersebut.
"Sudah dievakuasi ke rumah sakit dan ditangani oleh petugas medis. Informasinya sudah membaik," ujar Bambang saat memberikan bantuan makanan kepada korban banjir di Kelurahan Rejomulyo.
Menurut Wali Kota, pihaknya telah memberikan sejumlah bantuan awal kepada para korban banjir. Bantuan tersebut antara lain berupa makanan siap saji, mi instan, dan nasi bungkus. | metrotvnews.com
Petugas BPBD Kota Madiun, Janus, Minggu (7/4) malam, mengatakan bahwa lima korban banjir tersebut adalah seorang yang sudah lanjut usia, seorang balita, dan tiga orang dewasa.
"Para korban itu dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan medis, namun setelah itu keadaan mereka membaik dan dibawa ke rumah saudara masing-masing," ujar dia.
Menurut Janus, kelima korban tersebut dievakuasi ke rumah sakit karena mengalami sakit dan dalam kondisi kedinginan. Selain itu, ketinggian air di dalam rumah mereka sudah mencapai sekitar 50 sentimeter.
Petugas gabungan dari BPBD, PMI, tim relawan, dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Madiun hingga Senin dini hari masih bersiaga guna mengantisipasi naiknya air.
Wali Kota Madiun Bambang Irianto membenarkan adanya lima orang warganya yang dievakuasi ke rumah sakit. Namun ia mengaku belum mengetahui secara pasti kondisi kelima orang tersebut.
"Sudah dievakuasi ke rumah sakit dan ditangani oleh petugas medis. Informasinya sudah membaik," ujar Bambang saat memberikan bantuan makanan kepada korban banjir di Kelurahan Rejomulyo.
Menurut Wali Kota, pihaknya telah memberikan sejumlah bantuan awal kepada para korban banjir. Bantuan tersebut antara lain berupa makanan siap saji, mi instan, dan nasi bungkus. | metrotvnews.com
Monumen Kekejaman PKI di Madiun Jadi Tempat Mesum
Monumen Kekejaman PKI di Madiun Jadi Tempat Mesum - Kompleks monumen peringatan bagi korban kekejaman pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, Monumen Kresek di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, kerap disalahgunakan oleh pengunjung untuk berbuat mesum.
"Sebetulnya warga masyarakat sekitar sudah merasa risi. Namun bagaimana lagi, sulit dicegah. Di monumen tidak ada penjagaan khusus," ujar Indah, pedagang di sekitar Monumen, Rabu.
Menurut dia, setiap malam minggu atau bertepatan dengan hari liburan, komplek wisata ini banyak dikunjungi oleh pasangan remaja.
Warga berharap kepada pihak berwenang untuk segera mengambil tindakan.
Kepala Bidang Priwisata, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata Kabupaten Madiun, Heri Cahyono, mengemukakan pihaknya hanya bertugas untuk pencatatan obyek wisata saja.
"Sedangkan yang mengurusi masalah pengelolaannya adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Sementara itu, untuk urusan ketertiban merupakan kewenangan dari Satuan Polisi Pamong Praja," katanya.
Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna menindaklanjuti masalah ini.
Monumen Kresek dibangun untuk mengenang Peristiwa Pemberontakan PKI di Madiun. Lokasi peninggalan sejarah ini dibangun di atas lahan seluas 2 hektare.
Letaknya berada 15 km ke arah timur dari Kota Madiun dan terdiri dari monumen serta relief peninggalan sejarah tentang keganasan PKI pada tahun 1948 di Madiun. Fasilitas wisata yang ada di tempat ini, antara lain, pendopo tempat istirahat, taman bunga, dan dilengkapi pula areal parkir. | antaranews.com
"Sebetulnya warga masyarakat sekitar sudah merasa risi. Namun bagaimana lagi, sulit dicegah. Di monumen tidak ada penjagaan khusus," ujar Indah, pedagang di sekitar Monumen, Rabu.
Menurut dia, setiap malam minggu atau bertepatan dengan hari liburan, komplek wisata ini banyak dikunjungi oleh pasangan remaja.
Warga berharap kepada pihak berwenang untuk segera mengambil tindakan.
Kepala Bidang Priwisata, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata Kabupaten Madiun, Heri Cahyono, mengemukakan pihaknya hanya bertugas untuk pencatatan obyek wisata saja.
"Sedangkan yang mengurusi masalah pengelolaannya adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Sementara itu, untuk urusan ketertiban merupakan kewenangan dari Satuan Polisi Pamong Praja," katanya.
Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna menindaklanjuti masalah ini.
Monumen Kresek dibangun untuk mengenang Peristiwa Pemberontakan PKI di Madiun. Lokasi peninggalan sejarah ini dibangun di atas lahan seluas 2 hektare.
Letaknya berada 15 km ke arah timur dari Kota Madiun dan terdiri dari monumen serta relief peninggalan sejarah tentang keganasan PKI pada tahun 1948 di Madiun. Fasilitas wisata yang ada di tempat ini, antara lain, pendopo tempat istirahat, taman bunga, dan dilengkapi pula areal parkir. | antaranews.com
Senin, 01 April 2013
Fakta Musso, Pemimpin PKI Madiun 1948 Ternyata Anak Kyai Terpandang
Fakta Pemimpin PKI Madiun 1948, Musso: Ternyata Anak Kyai Terpandang - Bagi yang masih ingat pelajaran Sejarah semasa sekolah pasti masih ingat dengan ?Pemberontakan PKI di Madiun Tahun 1948? yang dipimpin oleh Muso. Tokoh kelahiran Kediri tahun 1897 ini amat ditakuti karena bersama pengikutnya pernah membantai banyak orang di Madiun yang tidak mau mengikuti ideologinya. Nah, fakta yang menarik adalah ternyata Muso adalah keturunan pendiri Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Ia adalah anak dari KH Hasan Muhyi yang menikah dengan Nyai Juru.
Sebagai anak seorang kiai dan berada di lingkungan pesantren sejak kecil, tentu saja Muso kecil rajin nyantri. Cerita ini disampaikan oleh KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri. Menurut Gus Ibiq, sapaan Hamdan Ibiq, Muso selain masih keluarganya, juga pernah nyantri layaknya putra para kiai, penuturan ini berdasarkan cerita dari para leluhurnya.
?Tidak disebutkan jelas di mana dia nyantri, tapi berdasarkan keterangan kakek buyut saya, Musso merupakan anak yang cerdas kala dia nyantri," kata Gus Ibiq.
Hingga sekarang, pihak keluarga meyakini bahwa apa yang dilakukan Muso dengan gerakannya itu lebih pada pilihan politik, bukan ideologis. "Saya kira dia paham agama, apa yang dia lakukan semata untuk melawan Belanda,? tambah Gus Ibiq.
Adapun makam pendiri pesantren, KH Hasan Muhyo dan Nyai Juru keduanya berada di kompleks Pondok Pesantren Kapurejo yang berjarak 200 meter dari lokasi pesantren induk ke arah belakang. Makam KH Hasan Muhyi berjajar di antara makam keluarga lainnya, sedangkan makam Nyai Juru berada lebih atas dengan nisan batu layaknya nisan orang kuno. Ini adalah makan keluarga.
Posisi makam yang berbeda ternyata disebabkan Nyai Juru lebih dahulu meninggal dibandingkan KH Hasan Muhyi. Sebab berdasarkan silsilah keluarga KH Hasan Muhyi menikah sebanyak tiga kali.
Dari makam kedua orangtua Muso, dilakukan penelusuran menuju Desa Jagung yang berjarak kurang lebih 4 Km dari Ponpes Kapurejo dengan tujuan mencari rumah peninggalan orang tua Muso. Sebuah fakta mengejutkan, rumah di ujung desa tersebut sudah lenyap dan terganti dengan rumah-rumah baru sejak 5 tahun lalu. Sebab digambarkan sebelumnya rumah orang tua Muso adalah rumah berbentuk rumah tradisional srotong atau doro gepak yang terbuat dari kayu jati.
Di depan rumah Muso, ada pohon durian yang sangat besar, dan selalu berbuah lebat di setiap musim durian. Selain salah satu orang kaya dan terpandang, Nyai Juru selalu memberi perhatian kepada para tetangganya, salah satunya mengajak bermain ke rumahnya.
"Saya pernah main ke rumah itu saat saya masih kecil, namun saya tidak pernah bertemu Muso, sebab dia memang jarang pulang. Saya pun hanya mendapatkan cerita, Muso sesekali pulang menjenguk ibunya (Nyai Juru) yang sedang sakit. Di saat Muso pulang itu biasanya ada penggerebekan, namun dia selalu lolos, penggerebekan itu lebih karena karena ketokohannya," kata Nur Hasan (85) salah seorang warga di Desa Jagung.
Gambaran perjalanan Muso akhirnya diteruskan kepada sumber lain yang masih hidup yakni Ustaz Nurudin (85) warga Dusun Santren Desa Jagung Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Menurutnya, KH Hasan Muhyi dulu juga sempat membuat pesantren di wilayah Dusun Santren, Desa Jagung, Kecamatan Pagu.
"Pesantrennya hanya berbentuk langgar angkringan (mushola bambu) tepatnya tahun berapa saya ndak paham, cuman bapak saya bilang tahun 1926 sudah ada. Saat membangun pesantren itu, KH Hasan Muhyi didampingi beberapa temanya sesama pelarian pasukan Diponegoro, yakni Ki Martojo, Ki Sanan Kemat, Mbah Awi, dan Mbah Mantari," kata Ustaz Nuruddin.
Dan pada tahun 1954, KH Hasan Muhyi memindah pesantrennya ke Kapurejo, Pagu, setelah sebelumnya mendapatkan wisik bahwa pesantren yang dibangunnya tersebut akan terkena lahar Gunung Kelud. Pemindahan akhirnya kejadian pada tahun 1964 atau tepat sepuluh tahun setelah mendapatkan petunjuk.
"Karena semua terlalap lahar dingin Gunung Kelud, akhirnya mushola itu dibangun permanen pada tahun yang sama dan pada perkembangannya sekitar tahun 1980 an mushola itu dibangun menjadi masjid hingga saat ini," kata Nurudin.
Sebagai anak seorang kiai dan berada di lingkungan pesantren sejak kecil, tentu saja Muso kecil rajin nyantri. Cerita ini disampaikan oleh KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri. Menurut Gus Ibiq, sapaan Hamdan Ibiq, Muso selain masih keluarganya, juga pernah nyantri layaknya putra para kiai, penuturan ini berdasarkan cerita dari para leluhurnya.
?Tidak disebutkan jelas di mana dia nyantri, tapi berdasarkan keterangan kakek buyut saya, Musso merupakan anak yang cerdas kala dia nyantri," kata Gus Ibiq.
Hingga sekarang, pihak keluarga meyakini bahwa apa yang dilakukan Muso dengan gerakannya itu lebih pada pilihan politik, bukan ideologis. "Saya kira dia paham agama, apa yang dia lakukan semata untuk melawan Belanda,? tambah Gus Ibiq.
Adapun makam pendiri pesantren, KH Hasan Muhyo dan Nyai Juru keduanya berada di kompleks Pondok Pesantren Kapurejo yang berjarak 200 meter dari lokasi pesantren induk ke arah belakang. Makam KH Hasan Muhyi berjajar di antara makam keluarga lainnya, sedangkan makam Nyai Juru berada lebih atas dengan nisan batu layaknya nisan orang kuno. Ini adalah makan keluarga.
Posisi makam yang berbeda ternyata disebabkan Nyai Juru lebih dahulu meninggal dibandingkan KH Hasan Muhyi. Sebab berdasarkan silsilah keluarga KH Hasan Muhyi menikah sebanyak tiga kali.
Dari makam kedua orangtua Muso, dilakukan penelusuran menuju Desa Jagung yang berjarak kurang lebih 4 Km dari Ponpes Kapurejo dengan tujuan mencari rumah peninggalan orang tua Muso. Sebuah fakta mengejutkan, rumah di ujung desa tersebut sudah lenyap dan terganti dengan rumah-rumah baru sejak 5 tahun lalu. Sebab digambarkan sebelumnya rumah orang tua Muso adalah rumah berbentuk rumah tradisional srotong atau doro gepak yang terbuat dari kayu jati.
Di depan rumah Muso, ada pohon durian yang sangat besar, dan selalu berbuah lebat di setiap musim durian. Selain salah satu orang kaya dan terpandang, Nyai Juru selalu memberi perhatian kepada para tetangganya, salah satunya mengajak bermain ke rumahnya.
"Saya pernah main ke rumah itu saat saya masih kecil, namun saya tidak pernah bertemu Muso, sebab dia memang jarang pulang. Saya pun hanya mendapatkan cerita, Muso sesekali pulang menjenguk ibunya (Nyai Juru) yang sedang sakit. Di saat Muso pulang itu biasanya ada penggerebekan, namun dia selalu lolos, penggerebekan itu lebih karena karena ketokohannya," kata Nur Hasan (85) salah seorang warga di Desa Jagung.
Gambaran perjalanan Muso akhirnya diteruskan kepada sumber lain yang masih hidup yakni Ustaz Nurudin (85) warga Dusun Santren Desa Jagung Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Menurutnya, KH Hasan Muhyi dulu juga sempat membuat pesantren di wilayah Dusun Santren, Desa Jagung, Kecamatan Pagu.
"Pesantrennya hanya berbentuk langgar angkringan (mushola bambu) tepatnya tahun berapa saya ndak paham, cuman bapak saya bilang tahun 1926 sudah ada. Saat membangun pesantren itu, KH Hasan Muhyi didampingi beberapa temanya sesama pelarian pasukan Diponegoro, yakni Ki Martojo, Ki Sanan Kemat, Mbah Awi, dan Mbah Mantari," kata Ustaz Nuruddin.
Dan pada tahun 1954, KH Hasan Muhyi memindah pesantrennya ke Kapurejo, Pagu, setelah sebelumnya mendapatkan wisik bahwa pesantren yang dibangunnya tersebut akan terkena lahar Gunung Kelud. Pemindahan akhirnya kejadian pada tahun 1964 atau tepat sepuluh tahun setelah mendapatkan petunjuk.
"Karena semua terlalap lahar dingin Gunung Kelud, akhirnya mushola itu dibangun permanen pada tahun yang sama dan pada perkembangannya sekitar tahun 1980 an mushola itu dibangun menjadi masjid hingga saat ini," kata Nurudin.
Fakta Musso, Pemimpin PKI Madiun 1948 Ternyata Anak Kyai Terpandang
Fakta Pemimpin PKI Madiun 1948, Musso: Ternyata Anak Kyai Terpandang - Bagi yang masih ingat pelajaran Sejarah semasa sekolah pasti masih ingat dengan �Pemberontakan PKI di Madiun Tahun 1948� yang dipimpin oleh Muso. Tokoh kelahiran Kediri tahun 1897 ini amat ditakuti karena bersama pengikutnya pernah membantai banyak orang di Madiun yang tidak mau mengikuti ideologinya. Nah, fakta yang menarik adalah ternyata Muso adalah keturunan pendiri Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Ia adalah anak dari KH Hasan Muhyi yang menikah dengan Nyai Juru.
Sebagai anak seorang kiai dan berada di lingkungan pesantren sejak kecil, tentu saja Muso kecil rajin nyantri. Cerita ini disampaikan oleh KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri. Menurut Gus Ibiq, sapaan Hamdan Ibiq, Muso selain masih keluarganya, juga pernah nyantri layaknya putra para kiai, penuturan ini berdasarkan cerita dari para leluhurnya.
�Tidak disebutkan jelas di mana dia nyantri, tapi berdasarkan keterangan kakek buyut saya, Musso merupakan anak yang cerdas kala dia nyantri," kata Gus Ibiq.
Hingga sekarang, pihak keluarga meyakini bahwa apa yang dilakukan Muso dengan gerakannya itu lebih pada pilihan politik, bukan ideologis. "Saya kira dia paham agama, apa yang dia lakukan semata untuk melawan Belanda,� tambah Gus Ibiq.
Adapun makam pendiri pesantren, KH Hasan Muhyo dan Nyai Juru keduanya berada di kompleks Pondok Pesantren Kapurejo yang berjarak 200 meter dari lokasi pesantren induk ke arah belakang. Makam KH Hasan Muhyi berjajar di antara makam keluarga lainnya, sedangkan makam Nyai Juru berada lebih atas dengan nisan batu layaknya nisan orang kuno. Ini adalah makan keluarga.
Posisi makam yang berbeda ternyata disebabkan Nyai Juru lebih dahulu meninggal dibandingkan KH Hasan Muhyi. Sebab berdasarkan silsilah keluarga KH Hasan Muhyi menikah sebanyak tiga kali.
Dari makam kedua orangtua Muso, dilakukan penelusuran menuju Desa Jagung yang berjarak kurang lebih 4 Km dari Ponpes Kapurejo dengan tujuan mencari rumah peninggalan orang tua Muso. Sebuah fakta mengejutkan, rumah di ujung desa tersebut sudah lenyap dan terganti dengan rumah-rumah baru sejak 5 tahun lalu. Sebab digambarkan sebelumnya rumah orang tua Muso adalah rumah berbentuk rumah tradisional srotong atau doro gepak yang terbuat dari kayu jati.
Di depan rumah Muso, ada pohon durian yang sangat besar, dan selalu berbuah lebat di setiap musim durian. Selain salah satu orang kaya dan terpandang, Nyai Juru selalu memberi perhatian kepada para tetangganya, salah satunya mengajak bermain ke rumahnya.
"Saya pernah main ke rumah itu saat saya masih kecil, namun saya tidak pernah bertemu Muso, sebab dia memang jarang pulang. Saya pun hanya mendapatkan cerita, Muso sesekali pulang menjenguk ibunya (Nyai Juru) yang sedang sakit. Di saat Muso pulang itu biasanya ada penggerebekan, namun dia selalu lolos, penggerebekan itu lebih karena karena ketokohannya," kata Nur Hasan (85) salah seorang warga di Desa Jagung.
Gambaran perjalanan Muso akhirnya diteruskan kepada sumber lain yang masih hidup yakni Ustaz Nurudin (85) warga Dusun Santren Desa Jagung Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Menurutnya, KH Hasan Muhyi dulu juga sempat membuat pesantren di wilayah Dusun Santren, Desa Jagung, Kecamatan Pagu.
"Pesantrennya hanya berbentuk langgar angkringan (mushola bambu) tepatnya tahun berapa saya ndak paham, cuman bapak saya bilang tahun 1926 sudah ada. Saat membangun pesantren itu, KH Hasan Muhyi didampingi beberapa temanya sesama pelarian pasukan Diponegoro, yakni Ki Martojo, Ki Sanan Kemat, Mbah Awi, dan Mbah Mantari," kata Ustaz Nuruddin.
Dan pada tahun 1954, KH Hasan Muhyi memindah pesantrennya ke Kapurejo, Pagu, setelah sebelumnya mendapatkan wisik bahwa pesantren yang dibangunnya tersebut akan terkena lahar Gunung Kelud. Pemindahan akhirnya kejadian pada tahun 1964 atau tepat sepuluh tahun setelah mendapatkan petunjuk.
"Karena semua terlalap lahar dingin Gunung Kelud, akhirnya mushola itu dibangun permanen pada tahun yang sama dan pada perkembangannya sekitar tahun 1980 an mushola itu dibangun menjadi masjid hingga saat ini," kata Nurudin.
Sebagai anak seorang kiai dan berada di lingkungan pesantren sejak kecil, tentu saja Muso kecil rajin nyantri. Cerita ini disampaikan oleh KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri. Menurut Gus Ibiq, sapaan Hamdan Ibiq, Muso selain masih keluarganya, juga pernah nyantri layaknya putra para kiai, penuturan ini berdasarkan cerita dari para leluhurnya.
�Tidak disebutkan jelas di mana dia nyantri, tapi berdasarkan keterangan kakek buyut saya, Musso merupakan anak yang cerdas kala dia nyantri," kata Gus Ibiq.
Hingga sekarang, pihak keluarga meyakini bahwa apa yang dilakukan Muso dengan gerakannya itu lebih pada pilihan politik, bukan ideologis. "Saya kira dia paham agama, apa yang dia lakukan semata untuk melawan Belanda,� tambah Gus Ibiq.
Adapun makam pendiri pesantren, KH Hasan Muhyo dan Nyai Juru keduanya berada di kompleks Pondok Pesantren Kapurejo yang berjarak 200 meter dari lokasi pesantren induk ke arah belakang. Makam KH Hasan Muhyi berjajar di antara makam keluarga lainnya, sedangkan makam Nyai Juru berada lebih atas dengan nisan batu layaknya nisan orang kuno. Ini adalah makan keluarga.
Posisi makam yang berbeda ternyata disebabkan Nyai Juru lebih dahulu meninggal dibandingkan KH Hasan Muhyi. Sebab berdasarkan silsilah keluarga KH Hasan Muhyi menikah sebanyak tiga kali.
Dari makam kedua orangtua Muso, dilakukan penelusuran menuju Desa Jagung yang berjarak kurang lebih 4 Km dari Ponpes Kapurejo dengan tujuan mencari rumah peninggalan orang tua Muso. Sebuah fakta mengejutkan, rumah di ujung desa tersebut sudah lenyap dan terganti dengan rumah-rumah baru sejak 5 tahun lalu. Sebab digambarkan sebelumnya rumah orang tua Muso adalah rumah berbentuk rumah tradisional srotong atau doro gepak yang terbuat dari kayu jati.
Di depan rumah Muso, ada pohon durian yang sangat besar, dan selalu berbuah lebat di setiap musim durian. Selain salah satu orang kaya dan terpandang, Nyai Juru selalu memberi perhatian kepada para tetangganya, salah satunya mengajak bermain ke rumahnya.
"Saya pernah main ke rumah itu saat saya masih kecil, namun saya tidak pernah bertemu Muso, sebab dia memang jarang pulang. Saya pun hanya mendapatkan cerita, Muso sesekali pulang menjenguk ibunya (Nyai Juru) yang sedang sakit. Di saat Muso pulang itu biasanya ada penggerebekan, namun dia selalu lolos, penggerebekan itu lebih karena karena ketokohannya," kata Nur Hasan (85) salah seorang warga di Desa Jagung.
Gambaran perjalanan Muso akhirnya diteruskan kepada sumber lain yang masih hidup yakni Ustaz Nurudin (85) warga Dusun Santren Desa Jagung Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Menurutnya, KH Hasan Muhyi dulu juga sempat membuat pesantren di wilayah Dusun Santren, Desa Jagung, Kecamatan Pagu.
"Pesantrennya hanya berbentuk langgar angkringan (mushola bambu) tepatnya tahun berapa saya ndak paham, cuman bapak saya bilang tahun 1926 sudah ada. Saat membangun pesantren itu, KH Hasan Muhyi didampingi beberapa temanya sesama pelarian pasukan Diponegoro, yakni Ki Martojo, Ki Sanan Kemat, Mbah Awi, dan Mbah Mantari," kata Ustaz Nuruddin.
Dan pada tahun 1954, KH Hasan Muhyi memindah pesantrennya ke Kapurejo, Pagu, setelah sebelumnya mendapatkan wisik bahwa pesantren yang dibangunnya tersebut akan terkena lahar Gunung Kelud. Pemindahan akhirnya kejadian pada tahun 1964 atau tepat sepuluh tahun setelah mendapatkan petunjuk.
"Karena semua terlalap lahar dingin Gunung Kelud, akhirnya mushola itu dibangun permanen pada tahun yang sama dan pada perkembangannya sekitar tahun 1980 an mushola itu dibangun menjadi masjid hingga saat ini," kata Nurudin.
Senin, 25 Maret 2013
Wartawan Madiun Kecam Arogansi Pejabat Pemkab Ngawi
Wartawan Madiun Kecam Arogansi Pejabat Pemkab Ngawi - Puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan eks-keresidenan Madiun (FWM) mengecam arogansi oknum pejabat Pemerintah Kabupaten Ngawi yang menyita kamera wartawan saat melakukan peliputan di wilayah itu karena dinilai melanggar kebebasan pers.
Kecaman tersebut diwujudkan dengan menggelar aksi solidaritas bagi jurnalis korban penyitaan kamera yang dilakukan di Kantor Bupati Ngawi, Jawa Timur, Senin.
"Tindakan oknum pejabat Pemkab Ngawi yang menyita kamera jurnalis saat bertugas sangat bertentangan dengan kebebasan pers. Kami meminta Bupati Ngawi atau Sekda Ngawi untuk memberikan sanksi tegas terhadap oknum yang bersangkutan," kata Koordinator aksi solidaritas yang juga wartawan TV One Madiun, Nur Salam.
Penyitaan kamera oleh oknum pejabat tersebut dinilai melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, karena wartawan dalam bekerja dilindungi undang-undang.
"Dalam menjalankan tugas, wartawan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Oleh karena itu, kami sangat menolak aksi kekerasan kepada pers," kata Salam yang juga anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jatim itu.
Ia menjelaskan, aksi penyitaan kamera tersebut dilakukan oleh Kepala Bagian Umum dan Protokol Pemkab Ngawi, Martati.
Martati telah melakukan penyitaan kamera milik Hangky Ristanto wartawan Radar Madiun dan Andhika Abdilah wartawan Memorandum saat meliput kondisi ruang "smoking area" di lingkungan Pemkab Ngawi yang kumuh pada pekan lalu.
"Ibu Martati menyuruh saudara Hangky untuk menghapus semua 'file' fotonya dan kemudian meminta kamera tersebut lalu memasukkannya ke dalam laci. Tindakan ini sangat disayangkan, padahal pada peliputan tersebut, teman-teman telah sesuai dengan kode etik jurnalistik dan aturan birokrasi dalam melakukan konfirmasi," kata Salam.
Atas sikap itu, FWM menuntut agar oknum pejabat bersangkutan meminta maaf baik secara lisan maupun tertulis kepada forum.
Selain itu, FWM juga menuntut agar Bupati Ngawi memberikan sanksi tegas kepada bersangkutan sesuai aturan yang berlaku.
"Kami juga meminta kepada pimpinan Pemkab Ngawi dalam waktu dekat untuk melakukan sosialisasi UU RI Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan UU RI Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), kepada semua jajarannya agar akses peliputan wartawan lancar," tambahnya.
Sebelum berorasi, massa juga sempat menghadang mobil dinas Kepala Inspektorat Ngawi Soerjadi, yang kebetulan hendak meninggalkan kantor Bupati Ngawi.
Massa meminta kepada inspektorat untuk menindak dan membasmi sikap arogan para pejabatnya di lingkungan setempat, sehingga tidak menghalangi tugas wartawan.
Sementara itu, Sekda Ngawi Siswanto mewakili jajarannya langsung meminta maaf di hadapan massa wartawan.
Ia sangat menyayangkan sikap stafnya yang melanggar kebebasan pers.
"Saya mewakili yang bersangkutan dan institusi, memohon maaf atas kejadian yang menimpa saudara Hangky dan Dhika. Kami langsung menindaklanjuti kasus ini dengan memeriksa Martati dan akan memberikan sanksi tegas sesuai peraturan berlaku," kata Siswanto.
Pihaknya juga menyanggupi akan melakukan sosialisasi undang-undang pers dan KIP kepada jajaran dalam waktu dekat.
Sekda juga menjamin kemudahan akses peliputan di semua satuan kerjanya agar wartawan berperan maksimal dalam fungsi kontrol sosial terlebih di Kabupaten Ngawi.
Aksi solidaritas tersebut berlangsung damai dan mendapat pengamanan ketat dari anggota Polres Ngawi. | antarajatim.com
Kecaman tersebut diwujudkan dengan menggelar aksi solidaritas bagi jurnalis korban penyitaan kamera yang dilakukan di Kantor Bupati Ngawi, Jawa Timur, Senin.
"Tindakan oknum pejabat Pemkab Ngawi yang menyita kamera jurnalis saat bertugas sangat bertentangan dengan kebebasan pers. Kami meminta Bupati Ngawi atau Sekda Ngawi untuk memberikan sanksi tegas terhadap oknum yang bersangkutan," kata Koordinator aksi solidaritas yang juga wartawan TV One Madiun, Nur Salam.
Penyitaan kamera oleh oknum pejabat tersebut dinilai melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, karena wartawan dalam bekerja dilindungi undang-undang.
"Dalam menjalankan tugas, wartawan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Oleh karena itu, kami sangat menolak aksi kekerasan kepada pers," kata Salam yang juga anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jatim itu.
Ia menjelaskan, aksi penyitaan kamera tersebut dilakukan oleh Kepala Bagian Umum dan Protokol Pemkab Ngawi, Martati.
Martati telah melakukan penyitaan kamera milik Hangky Ristanto wartawan Radar Madiun dan Andhika Abdilah wartawan Memorandum saat meliput kondisi ruang "smoking area" di lingkungan Pemkab Ngawi yang kumuh pada pekan lalu.
"Ibu Martati menyuruh saudara Hangky untuk menghapus semua 'file' fotonya dan kemudian meminta kamera tersebut lalu memasukkannya ke dalam laci. Tindakan ini sangat disayangkan, padahal pada peliputan tersebut, teman-teman telah sesuai dengan kode etik jurnalistik dan aturan birokrasi dalam melakukan konfirmasi," kata Salam.
Atas sikap itu, FWM menuntut agar oknum pejabat bersangkutan meminta maaf baik secara lisan maupun tertulis kepada forum.
Selain itu, FWM juga menuntut agar Bupati Ngawi memberikan sanksi tegas kepada bersangkutan sesuai aturan yang berlaku.
"Kami juga meminta kepada pimpinan Pemkab Ngawi dalam waktu dekat untuk melakukan sosialisasi UU RI Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan UU RI Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), kepada semua jajarannya agar akses peliputan wartawan lancar," tambahnya.
Sebelum berorasi, massa juga sempat menghadang mobil dinas Kepala Inspektorat Ngawi Soerjadi, yang kebetulan hendak meninggalkan kantor Bupati Ngawi.
Massa meminta kepada inspektorat untuk menindak dan membasmi sikap arogan para pejabatnya di lingkungan setempat, sehingga tidak menghalangi tugas wartawan.
Sementara itu, Sekda Ngawi Siswanto mewakili jajarannya langsung meminta maaf di hadapan massa wartawan.
Ia sangat menyayangkan sikap stafnya yang melanggar kebebasan pers.
"Saya mewakili yang bersangkutan dan institusi, memohon maaf atas kejadian yang menimpa saudara Hangky dan Dhika. Kami langsung menindaklanjuti kasus ini dengan memeriksa Martati dan akan memberikan sanksi tegas sesuai peraturan berlaku," kata Siswanto.
Pihaknya juga menyanggupi akan melakukan sosialisasi undang-undang pers dan KIP kepada jajaran dalam waktu dekat.
Sekda juga menjamin kemudahan akses peliputan di semua satuan kerjanya agar wartawan berperan maksimal dalam fungsi kontrol sosial terlebih di Kabupaten Ngawi.
Aksi solidaritas tersebut berlangsung damai dan mendapat pengamanan ketat dari anggota Polres Ngawi. | antarajatim.com
Rabu, 20 Maret 2013
Harga Bawang Putih di Daerah Madiun Turun
Harga Bawang Putih di Daerah Madiun Turun - Harga bawang putih di sejumlah pasar tradisional Kota Madiun, Jawa Timur, mulai turun. Sebelumnya harga komoditas ini sempat menembus Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram.
�Saat ini harga bawang putih di Madiun berangsur turun. Sekarang saya berani menjual dengan harga Rp49.000 perkilogram,� kata seorang pedagang, Kartini di Pasar Besar Madiun, Rabu (20/03/2013).
Baca juga: Harga Bawang di Pacitan Melonjak Tajam dan Harga Bawang Putih di Madiun Tembus Rp30.000 Per Kilogram
Menurut dia, turunnya harga bawang putih tersebut terjadi sejak tiga hari terakhir. Padahal harga bawang putih pada Senin (18/3) lalu masih sekitar Rp60.000 hingga Rp55.000 perkilogram, kemudian turun menjadi Rp50.000 perkilogram pada hari Selasa (19/03/2013).
�Turunnya harga tersebut disebabkan karena pasokan bawang putih impor di sejumlah pasaran. Diperkirakan harga bawang putih akan terus menurun,� kata dia.
Meski mengalami penurunan harga, namun jumlah pembelian konsumen atas komoditas tersebut masih tergolong minim. Pembeli masih belum berani membeli banyak karena masih menunggu harga turun kembali.
�Pembelian bawang putih masih sedikit-sedikit, rata-rata belinya sekitar satu ons, dua ons, paling banyak setengah kilogram,� paparnya.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata (Diskoperindagta) Kota Madiun, Totok Sugiarto, membenarkan bahwa harga bawang putih di Madiun berangsur turun setelah pasokan bawang putih impor dari China yang dikirim melalui pelabuhan Surabaya mulai tiba di pasaran. Diperkirakan, harga dapat turun menjadi lebih rendah lagi.
Harga bawang merah justru mengalami kenaikan akibat minimnya pasokan dari daerah produksi. Harga bawang merah di sejumlah pasar tradisional di Madiun seperti Pasar Besar, Pasar Sleko, dan Pasar Srijaya terpantau naik bertahap sejak beberapa hari terakhir dari Rp50.000 menjadi Rp55.000 perkilogram.
Sementara di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Ngawi, seperti di Pasar Besar, Pasar Beran, dan Pasar Paron, harga bawang putih terpantau turun signifikan. Harga bawang putih turun dari Rp60.000 perkilogram ke kisaran Rp44.000 hingga Rp45.000 perkilogram.
�Beberapa hari terakhir ini harganya mulai turun. Itu karena banyaknya pasokan bawang impor di pasaran,� tutur pedagang Sunarti di Pasar Besar Ngawi. | lensaindonesia.com
�Saat ini harga bawang putih di Madiun berangsur turun. Sekarang saya berani menjual dengan harga Rp49.000 perkilogram,� kata seorang pedagang, Kartini di Pasar Besar Madiun, Rabu (20/03/2013).
Baca juga: Harga Bawang di Pacitan Melonjak Tajam dan Harga Bawang Putih di Madiun Tembus Rp30.000 Per Kilogram
Menurut dia, turunnya harga bawang putih tersebut terjadi sejak tiga hari terakhir. Padahal harga bawang putih pada Senin (18/3) lalu masih sekitar Rp60.000 hingga Rp55.000 perkilogram, kemudian turun menjadi Rp50.000 perkilogram pada hari Selasa (19/03/2013).
�Turunnya harga tersebut disebabkan karena pasokan bawang putih impor di sejumlah pasaran. Diperkirakan harga bawang putih akan terus menurun,� kata dia.
Meski mengalami penurunan harga, namun jumlah pembelian konsumen atas komoditas tersebut masih tergolong minim. Pembeli masih belum berani membeli banyak karena masih menunggu harga turun kembali.
�Pembelian bawang putih masih sedikit-sedikit, rata-rata belinya sekitar satu ons, dua ons, paling banyak setengah kilogram,� paparnya.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata (Diskoperindagta) Kota Madiun, Totok Sugiarto, membenarkan bahwa harga bawang putih di Madiun berangsur turun setelah pasokan bawang putih impor dari China yang dikirim melalui pelabuhan Surabaya mulai tiba di pasaran. Diperkirakan, harga dapat turun menjadi lebih rendah lagi.
Harga bawang merah justru mengalami kenaikan akibat minimnya pasokan dari daerah produksi. Harga bawang merah di sejumlah pasar tradisional di Madiun seperti Pasar Besar, Pasar Sleko, dan Pasar Srijaya terpantau naik bertahap sejak beberapa hari terakhir dari Rp50.000 menjadi Rp55.000 perkilogram.
Sementara di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Ngawi, seperti di Pasar Besar, Pasar Beran, dan Pasar Paron, harga bawang putih terpantau turun signifikan. Harga bawang putih turun dari Rp60.000 perkilogram ke kisaran Rp44.000 hingga Rp45.000 perkilogram.
�Beberapa hari terakhir ini harganya mulai turun. Itu karena banyaknya pasokan bawang impor di pasaran,� tutur pedagang Sunarti di Pasar Besar Ngawi. | lensaindonesia.com
Kamis, 14 Maret 2013
Edan! Seorang Bapak di Ngawi Gauli Anak Kandungnya Hingga Hamil
Edan! Seorang Bapak di Ngawi Gauli Anak Kandungnya Hingga Hamil - Sungguh tidak manusiawi dan terpuji yang dilakukan Adi Pranoto Diasih, warga Dusun Dukuh, Desa Tulakan, Kecamatan Sine, Ngawi menggauli anak kandungnya sendiri yang berumur 16 tahun hingga hamil.
Terungkapnya kasus ini bermula dari tetangga yang melapor kepada perangkat desa setempat setelah curiga melihat perut korban semakin membuncit. Setelah ditanya korban mengaku sudah digauli ayah kandungnya sejak kelas V SD.
Perbuatan bejat itu dilakukan hingga korban menginjak kelas 1 SMK. Korban mengaku dirinya dipaksa dan diancam oleh ayahnya setiap kali berhubungan intim.
Adi Pranoto Diasih sendiri membantah jika perbuatan cabul pada anaknya itu karena paksaan.
"Kami melakukannya sejak tahun 2007 atau sejak istri saya bekerja sebagai pembantu Rumah Tangga di Sidoarjo. Saya tak memaksa melakukannya karena dia juga mau" ujar Adi.
Menurut Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Budi Santosa tersangka akan dijerat pasal 81 dan 82 UURI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.
Terungkapnya kasus ini bermula dari tetangga yang melapor kepada perangkat desa setempat setelah curiga melihat perut korban semakin membuncit. Setelah ditanya korban mengaku sudah digauli ayah kandungnya sejak kelas V SD.
Perbuatan bejat itu dilakukan hingga korban menginjak kelas 1 SMK. Korban mengaku dirinya dipaksa dan diancam oleh ayahnya setiap kali berhubungan intim.
Adi Pranoto Diasih sendiri membantah jika perbuatan cabul pada anaknya itu karena paksaan.
"Kami melakukannya sejak tahun 2007 atau sejak istri saya bekerja sebagai pembantu Rumah Tangga di Sidoarjo. Saya tak memaksa melakukannya karena dia juga mau" ujar Adi.
Menurut Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Budi Santosa tersangka akan dijerat pasal 81 dan 82 UURI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.
Jumat, 08 Maret 2013
6 Aksi Bentrok Antara TNI Dengan Polri
6 Aksi Bentrok Antara TNI Dengan Polri - Bentrokann antara TNI dan Polri di Sumatera Selatan menambah panjang catatan hitam aparat keamanan tanah air. Kedua alat negara yang bertugas mengamankan dan mengayomi masyarakat kini saling serang dan membuat masyarakat resah.
Berikut 6 Aksi Bentrokan Antara TNI Vs Polri:
1. Bentrok di Tengah Kerusuhan Sampit
Peristiwa ini terjadi pada 27 Februari 2001 lalu, saat itu wilayah Sampit, Kalimantan Tengah sedang mencekam akibat kerusuhan SARA. 300 orang lebih tewas sementara ribuan lain terpaksa mengungsi. Di saat suasana sedang genting anggota TNI dan Brimob bukan menyelesaikan kerusuhan Sampit tapi kedua aparat negara ini saling serang, yang mengakibatkan dua orang tewas dan belasan luka-luka.
2. Gara-gara Botol, Brimob Tembaki Kostrad
Pada 2012 lalu, anggota Kostrad dan Brimod di Gorontalo, Papua saling bentrok. Aksi bentrok itu dipicu lantaran pelemparan botol yang dilakukan sejumlah orang tak dikenal saat Brimob melakukan patroli. Dua orang Brimob luka-luka.
Para anggota Brimob pun melakukan sweeping dengan memberhentikan semua mobil yang lewat guna mengetahui siapa pelaku pelemparan botol tersebut. Mereka melepaskan tembakan kepada mobil yang tidak mau berhenti, akibat tembakan itu empat anggota Kostrad mengalami luka tembak, dan dua lainnya mengalami luka akibat ditusuk.
3. Saling Tembak Karena Adu Mulut di Perbatasan
Pada 10 Desember 2006, Para anggota TNI dan Polri bukannya mengamankan perbatasan RI-Timor Leste, personel TNI dan Polri malah bentrok di Atambua, NTT. Penyebabnya bermula dari sekelompok anggota Yonif 744 melintas mapolres Belu. Tak jelas kenapa, para prajurit yang masih berusia muda itu perang mulut dengan anggota polisi. Terdengar suara tembakan. Para prajurit Yonif 744 ini pun memanggil bala bantuan. Baku tembak terjadi. Suasana Atambua mencekam.
4. Bentrok Yonif Linud 100 Vs Brimob di Binjai
Bentrok di Binjai, Sumatera Utara, antara Brimob dan Yonif Lintas Udara 100 benar-benar seperti perang. Puluhan personel TNI menggempur markas Brimob di Tanah Tinggi. Mereka juga menggranat markas tersebut hingga nyaris rata dengan tanah. Aksi tembak menembak yang dilakukan kedua kubu menyebabkan 10 Orang tewas. Penyebabnya diketahui karena polisi menangkap seorang pemuda yang kedapatan membawa narkoba, salah satu anggota TNI meminta agar pemuda dibebaskan. Polisi menolak, anggota TNI marah dan kemudian aksi saling serang itu terjadi.
5. Bentrok di Kamar Kos
Pada Februari 2008, TNI dan Polri bentrok lantaran persoalan kamar kos di Masohi, Maluku. Dalam bentrok itu dua anggota Polri dan satu anggota TNI tewas. Penyebabnya diketahui, Bripka Rumata yang habis piket hingga pagi hari, pulang ke kamar kosnya dan mendapati kamarnya dalam keadaan terkunci. Dia mendapati di dalam ada Prada Eko yang tidur bersama kekasihnya.
Entah bagaimana, Eko tidak kembali ke baraknya. Rekan-rekannya yang menanyakan kejadian yang menimpa Eko, mendapat isu bahwa Eko diculik oleh Rumata. Rekan-rekannya Eko menyerang Polres Masohi, tempat Bripka Rumata bekerja.
6. Bentrok Anggota Yon 501 dengan Polisi di Madiun
Bentrokan antara anggota Polresta Madiun dengan Batalion 501 diawali masalah sepele, yaitu berselisih di antrean SPBU. Bentrokan ini membuat situasi Madiun, Jawa Timur mencekam. Dua warga sipil ikut jadi korban. Kantor Mapolresta Madiun sempat dua kali diserang anggota TNI. Baku tembak tak terhindarkan.
Bentrokan dan baku tembak antara anggota Polresta Madiun dengan anggota Yon 501 telah membuat kota Madiun mencekam pada Minggu (16/9/2001) dini hari. | merdeka.com | madiunkingdom.blogspot.com
Berikut 6 Aksi Bentrokan Antara TNI Vs Polri:
1. Bentrok di Tengah Kerusuhan Sampit
Peristiwa ini terjadi pada 27 Februari 2001 lalu, saat itu wilayah Sampit, Kalimantan Tengah sedang mencekam akibat kerusuhan SARA. 300 orang lebih tewas sementara ribuan lain terpaksa mengungsi. Di saat suasana sedang genting anggota TNI dan Brimob bukan menyelesaikan kerusuhan Sampit tapi kedua aparat negara ini saling serang, yang mengakibatkan dua orang tewas dan belasan luka-luka.
2. Gara-gara Botol, Brimob Tembaki Kostrad
Pada 2012 lalu, anggota Kostrad dan Brimod di Gorontalo, Papua saling bentrok. Aksi bentrok itu dipicu lantaran pelemparan botol yang dilakukan sejumlah orang tak dikenal saat Brimob melakukan patroli. Dua orang Brimob luka-luka.
Para anggota Brimob pun melakukan sweeping dengan memberhentikan semua mobil yang lewat guna mengetahui siapa pelaku pelemparan botol tersebut. Mereka melepaskan tembakan kepada mobil yang tidak mau berhenti, akibat tembakan itu empat anggota Kostrad mengalami luka tembak, dan dua lainnya mengalami luka akibat ditusuk.
3. Saling Tembak Karena Adu Mulut di Perbatasan
Pada 10 Desember 2006, Para anggota TNI dan Polri bukannya mengamankan perbatasan RI-Timor Leste, personel TNI dan Polri malah bentrok di Atambua, NTT. Penyebabnya bermula dari sekelompok anggota Yonif 744 melintas mapolres Belu. Tak jelas kenapa, para prajurit yang masih berusia muda itu perang mulut dengan anggota polisi. Terdengar suara tembakan. Para prajurit Yonif 744 ini pun memanggil bala bantuan. Baku tembak terjadi. Suasana Atambua mencekam.
4. Bentrok Yonif Linud 100 Vs Brimob di Binjai
Bentrok di Binjai, Sumatera Utara, antara Brimob dan Yonif Lintas Udara 100 benar-benar seperti perang. Puluhan personel TNI menggempur markas Brimob di Tanah Tinggi. Mereka juga menggranat markas tersebut hingga nyaris rata dengan tanah. Aksi tembak menembak yang dilakukan kedua kubu menyebabkan 10 Orang tewas. Penyebabnya diketahui karena polisi menangkap seorang pemuda yang kedapatan membawa narkoba, salah satu anggota TNI meminta agar pemuda dibebaskan. Polisi menolak, anggota TNI marah dan kemudian aksi saling serang itu terjadi.
5. Bentrok di Kamar Kos
Pada Februari 2008, TNI dan Polri bentrok lantaran persoalan kamar kos di Masohi, Maluku. Dalam bentrok itu dua anggota Polri dan satu anggota TNI tewas. Penyebabnya diketahui, Bripka Rumata yang habis piket hingga pagi hari, pulang ke kamar kosnya dan mendapati kamarnya dalam keadaan terkunci. Dia mendapati di dalam ada Prada Eko yang tidur bersama kekasihnya.
Entah bagaimana, Eko tidak kembali ke baraknya. Rekan-rekannya yang menanyakan kejadian yang menimpa Eko, mendapat isu bahwa Eko diculik oleh Rumata. Rekan-rekannya Eko menyerang Polres Masohi, tempat Bripka Rumata bekerja.
6. Bentrok Anggota Yon 501 dengan Polisi di Madiun
Bentrokan antara anggota Polresta Madiun dengan Batalion 501 diawali masalah sepele, yaitu berselisih di antrean SPBU. Bentrokan ini membuat situasi Madiun, Jawa Timur mencekam. Dua warga sipil ikut jadi korban. Kantor Mapolresta Madiun sempat dua kali diserang anggota TNI. Baku tembak tak terhindarkan.
Bentrokan dan baku tembak antara anggota Polresta Madiun dengan anggota Yon 501 telah membuat kota Madiun mencekam pada Minggu (16/9/2001) dini hari. | merdeka.com | madiunkingdom.blogspot.com
Sabtu, 23 Februari 2013
Kasus Ijazah Cabup Madiun Muhtarom Dihentikan
Kasus Ijazah Cabup Madiun Muhtarom Dihentikan - Proses penyidikan atas laporan ijazah SD (sekolah dasar) Bupati Madiun Muhtarom dihentikan oleh penyidik Polres Madiun Kota. Kapolres Madiun Kota AKBP Ucu Kuspriyadi pada 30 Januari 2013, sudah meneken terbitnya SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan).
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madiun, AKBP Ucu menegaskan terbitnya SP3 itu bukan berarti penyidikan dihentikan selamanya. Dijelaskan, jika ada bukti-bukti baru, penyidik dapat kembali membuka atau melanjutkan penyidikan laporan kasus tersebut. ��Kasus masih bisa dibuka kembali dengan catatan ada bukti baru (novum, Red),�� jelasnya, kemarin (6/2).
Mantan Kabagdalpres Rosdm Polda Jatim itu menambahkan, terlapor dan pelapor sudah diberi SP3 tersebut. Dijelaskan, terbitnya SP3 itu menindaklanjuti hasil rekomendasi dari gelar perkara penyidikan kasus ijazah SD Muhtarom di Direskrim Umum, Polda Jatim, pada 25 Januari.
Dalam gelar perkara dipaparkan hasil penyidikan dan pemeriksaan saksi-saksi, serta hasil pemeriksaan alat bukti dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim. ��Menyatakan bahwa ijazah itu identik, artinya tidak terbukti adanya unsur pemalsuan,�� tambah kapolresta.
Kapolresta menambahkan, baru-baru ini pihaknya juga menerima laporan terkait ijazah MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan KTP (Kartu Tanda Penduduk) Muhtarom. Sebagai pelayan masyarakat, Polres Madiun Kota tetap menangani laporan tersebut. Dan, sbeagai upaya secepatnya memberikan kepastian hukum kepada terlapor.
Sementara itu, Kasatreskrim AKP Suhono menambahkan, hasil Labfor Polda Jatim menyebutkan terdapat 12 titik yang identik dengan keabsahan ijazah Muhtarom saat bersekolah di SDN Ketawang, Dolopo tersebut. Di antaranya dicocokkan dengan sidik jari Muhtarom. Selain itu, buku induk, logo, nomor dan stempel. ��Tanpa ada identik keabsahan itu, politi tidak berani menerbitkan SP3, karena objeknya itu adalah ijazah yang dilaporkan diduga palsu,�� ujarnya.
Di tempat terpisah, Nuryanto, Sekretaris DPC PKB Kabupaten Madiun sekaligus pendamping hukum Muhtarom menyatakan tidak kaget dengan terbitnya SP3 dari Polres Madiun Kota. Sebab, sejak awal sudah menyakini ijazah SDN milik Bupati Muhtarom tidak bermasalah atau tidak palsu. ��Kami sikapi biasa saja, karena yakin tidak ada masalah,�� tandasnya.
Diundang, Pelapor Ijazah MTs dan KTP Absen
SATRESKRIM Polres Madiun Kota kembali menerima laporan yang berkaitan dengan Muhtarom. Yakni, soal ijazah Madrasah Tsanawiyah (MTs) milik Muhtarom dan dugaan dugaan pencantuman identitas palsu di KTP (Kartu Tanda Penduduk).
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madiun, Kasatreskrim AKP Suhono menjelaskan, laporan ijazah MTs itu dibuat Arif Subagyo, warga Kabupaten Madiun. Ijazah Muhtarom dari MTsN Kembangsawit itu dipergunakan saat mendaftar sebagai calon bupati pada Pilkada Kabupaten Madiun 2008, di KPUD setempat yang saat itu berkantor di Jalan Suhud Nosingo, Kota Madiun. ��Dua kali kami undang pelapor tidak datang, bagaimana proses bisa ke penyidikan?�� kata Suhono.
Mantan Kasatreskrim Polres Magetan itu menambahkan, diperoleh informasi pelapor tidak datang lantaran penyidik belum mengeluarkan surat perintah penyidikan. Dijelaskan, laporan tersebut sebagai bukti permulaan. Pun, keterangan dari pelapor juga dipergunakan polisi untuk bukti permulaan sehingga dapat dilakukan penyidikan.
Sedangkan untuk laporan KTP Muhtarom itu dilayangkan Sujono, warga Kabupaten Madiun. Berbeda dengan penanganan laporan ijazah MTs Muhtarom, untuk KTP sudah dilakukan penyidikan. Prosesnya ditangani Unit II Satreskrim. ��Sesuai laporannya, terlapor mencantumkan identitas pekerjaan yang diduga palsu di KTP saat mendaftar sebagai calon bupati pada Pilkada Kabupaten Madiun tahun 2008,�� papar Suhono.
Versi pelapor, ditemukan di blanko pendaftaran yang dikeluarkan KPUD Kabupaten Madiun pekerjaan terlapor tertulis wakil bupati. Sedangkan di KTP masih tertulis dengan kualifikasi pekerjaan swasta. Pihaknya sudah mengundang pelapor dan melakukan pemeriksaan saksi-saksi. ��Pelapor juga melampirkan barang bukti di antaranya foto kopi KTP terlapor saat mendaftar di KPUD,�� tegasnya. | radarmadiun.info
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madiun, AKBP Ucu menegaskan terbitnya SP3 itu bukan berarti penyidikan dihentikan selamanya. Dijelaskan, jika ada bukti-bukti baru, penyidik dapat kembali membuka atau melanjutkan penyidikan laporan kasus tersebut. ��Kasus masih bisa dibuka kembali dengan catatan ada bukti baru (novum, Red),�� jelasnya, kemarin (6/2).
Mantan Kabagdalpres Rosdm Polda Jatim itu menambahkan, terlapor dan pelapor sudah diberi SP3 tersebut. Dijelaskan, terbitnya SP3 itu menindaklanjuti hasil rekomendasi dari gelar perkara penyidikan kasus ijazah SD Muhtarom di Direskrim Umum, Polda Jatim, pada 25 Januari.
Dalam gelar perkara dipaparkan hasil penyidikan dan pemeriksaan saksi-saksi, serta hasil pemeriksaan alat bukti dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim. ��Menyatakan bahwa ijazah itu identik, artinya tidak terbukti adanya unsur pemalsuan,�� tambah kapolresta.
Kapolresta menambahkan, baru-baru ini pihaknya juga menerima laporan terkait ijazah MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan KTP (Kartu Tanda Penduduk) Muhtarom. Sebagai pelayan masyarakat, Polres Madiun Kota tetap menangani laporan tersebut. Dan, sbeagai upaya secepatnya memberikan kepastian hukum kepada terlapor.
Sementara itu, Kasatreskrim AKP Suhono menambahkan, hasil Labfor Polda Jatim menyebutkan terdapat 12 titik yang identik dengan keabsahan ijazah Muhtarom saat bersekolah di SDN Ketawang, Dolopo tersebut. Di antaranya dicocokkan dengan sidik jari Muhtarom. Selain itu, buku induk, logo, nomor dan stempel. ��Tanpa ada identik keabsahan itu, politi tidak berani menerbitkan SP3, karena objeknya itu adalah ijazah yang dilaporkan diduga palsu,�� ujarnya.
Di tempat terpisah, Nuryanto, Sekretaris DPC PKB Kabupaten Madiun sekaligus pendamping hukum Muhtarom menyatakan tidak kaget dengan terbitnya SP3 dari Polres Madiun Kota. Sebab, sejak awal sudah menyakini ijazah SDN milik Bupati Muhtarom tidak bermasalah atau tidak palsu. ��Kami sikapi biasa saja, karena yakin tidak ada masalah,�� tandasnya.
Diundang, Pelapor Ijazah MTs dan KTP Absen
SATRESKRIM Polres Madiun Kota kembali menerima laporan yang berkaitan dengan Muhtarom. Yakni, soal ijazah Madrasah Tsanawiyah (MTs) milik Muhtarom dan dugaan dugaan pencantuman identitas palsu di KTP (Kartu Tanda Penduduk).
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madiun, Kasatreskrim AKP Suhono menjelaskan, laporan ijazah MTs itu dibuat Arif Subagyo, warga Kabupaten Madiun. Ijazah Muhtarom dari MTsN Kembangsawit itu dipergunakan saat mendaftar sebagai calon bupati pada Pilkada Kabupaten Madiun 2008, di KPUD setempat yang saat itu berkantor di Jalan Suhud Nosingo, Kota Madiun. ��Dua kali kami undang pelapor tidak datang, bagaimana proses bisa ke penyidikan?�� kata Suhono.
Mantan Kasatreskrim Polres Magetan itu menambahkan, diperoleh informasi pelapor tidak datang lantaran penyidik belum mengeluarkan surat perintah penyidikan. Dijelaskan, laporan tersebut sebagai bukti permulaan. Pun, keterangan dari pelapor juga dipergunakan polisi untuk bukti permulaan sehingga dapat dilakukan penyidikan.
Sedangkan untuk laporan KTP Muhtarom itu dilayangkan Sujono, warga Kabupaten Madiun. Berbeda dengan penanganan laporan ijazah MTs Muhtarom, untuk KTP sudah dilakukan penyidikan. Prosesnya ditangani Unit II Satreskrim. ��Sesuai laporannya, terlapor mencantumkan identitas pekerjaan yang diduga palsu di KTP saat mendaftar sebagai calon bupati pada Pilkada Kabupaten Madiun tahun 2008,�� papar Suhono.
Versi pelapor, ditemukan di blanko pendaftaran yang dikeluarkan KPUD Kabupaten Madiun pekerjaan terlapor tertulis wakil bupati. Sedangkan di KTP masih tertulis dengan kualifikasi pekerjaan swasta. Pihaknya sudah mengundang pelapor dan melakukan pemeriksaan saksi-saksi. ��Pelapor juga melampirkan barang bukti di antaranya foto kopi KTP terlapor saat mendaftar di KPUD,�� tegasnya. | radarmadiun.info
Senin, 18 Februari 2013
Kecelakaan Bus Rosalia Indah di Jalan Raya Ngawi Magetan
Kecelakaan Bus Rosalia Indah di Jalan Raya Ngawi Magetan - Kecelakaan bus terjadi di jalan raya Ngawi-Magetan, Desa Keras Wetan, Kecamatan Geneng, Ngawi, Jawa Timur, Senin (18/2/2013). Diduga karena rem blong, Rosalia Indah terjun dari jembatan dan masuk ke sungai sedalam lima meter.
Salah satu penumpang bus, Suharti, mengatakan saat kejadian ia dalam kondisi setengah tertidur. Saat itu bus melaju pelan.
�Jalannya bus cukup pelan, namun tiba-tiba langsung melewati pembatas jembatan dan tercebur ke sungai,� ujar Suharti yang merupakan penumpang dari Tangerang tujuan Madiun ini.
Hal yang sama dikatakan saudara Suharti, Asri. Setelah tahu bus masuk sungai, ia berusaha keluar dari salah satu pintu bus. Dirinya juga sempat tertindih kursi dan penumpang lain.
Asri dan dua saudaranya sedang dalam perjalanan pulang kampung ke Trenggalek. Rencananya, dari Madiun mereka melanjutkan perjalanan ke Trenggalek. Beruntung mereka selamat dan hanya mengalami luka lecet.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, bus bernomor polisi AD-1505-CA itu tercebur ke sungai setelah menghindari motor dan mobil yang hendak menyeberang di pertigaan jalan tersebut.
Beruntung bus tidak melaju dengan kecepatan tinggi karena akan melewati pertigaan. Kecepatannya diperkirakan hanya sekitar 60 kilometer per jam. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun sejumlah penumpang bus mengalami luka ringan dan berat, termasuk sang sopir dan kondektur.
Korban luka dirawat di beberapa tempat, yakni Puskesmas Geneng, RSUD dr Soeroto Ngawi, dan Rumah Sakit Widodo Ngawi. Saat kejadian bus mengangkut sekitar 25 penumpang. | solopos.com
Salah satu penumpang bus, Suharti, mengatakan saat kejadian ia dalam kondisi setengah tertidur. Saat itu bus melaju pelan.
�Jalannya bus cukup pelan, namun tiba-tiba langsung melewati pembatas jembatan dan tercebur ke sungai,� ujar Suharti yang merupakan penumpang dari Tangerang tujuan Madiun ini.
Hal yang sama dikatakan saudara Suharti, Asri. Setelah tahu bus masuk sungai, ia berusaha keluar dari salah satu pintu bus. Dirinya juga sempat tertindih kursi dan penumpang lain.
Asri dan dua saudaranya sedang dalam perjalanan pulang kampung ke Trenggalek. Rencananya, dari Madiun mereka melanjutkan perjalanan ke Trenggalek. Beruntung mereka selamat dan hanya mengalami luka lecet.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, bus bernomor polisi AD-1505-CA itu tercebur ke sungai setelah menghindari motor dan mobil yang hendak menyeberang di pertigaan jalan tersebut.
Beruntung bus tidak melaju dengan kecepatan tinggi karena akan melewati pertigaan. Kecepatannya diperkirakan hanya sekitar 60 kilometer per jam. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun sejumlah penumpang bus mengalami luka ringan dan berat, termasuk sang sopir dan kondektur.
Korban luka dirawat di beberapa tempat, yakni Puskesmas Geneng, RSUD dr Soeroto Ngawi, dan Rumah Sakit Widodo Ngawi. Saat kejadian bus mengangkut sekitar 25 penumpang. | solopos.com
Rabu, 13 Februari 2013
Janin Korban Aborsi Gegerkan Madiun
![]() |
| Ilustrasi |
Pemilik rumah Usman (43) pertama kali menemukan awalanya merasa curiga dengan gundukan tanah seperti bekas galian baru dihalaman belakang rumahnya. Ia kemudian membongkar gundukan tanah tersebut bersama istrinya (43) Syahidah.
"Pas saya bongkar ternyata isinya mayat janin lengkap dengan ari-ari yang dibungkus kain kafan. Dan kain kafannya juga berlumuran darah. Mungkin itu janin aborsi soalnya alat kelaminnya juga belum jelas," ujarnya, Minggu (10/2/2013).
Mengetahui adanya mayat yang dikubur dibelang rumahnya yang berada tidak jauh dari jalan ring road Kota Madiun, Usman langsung melaporkan hal ini ke ketua RT dan pihak kepolisian. Petugas Polres Madiun Kota yang datang kemudian langsung melakukan olah TKP.
"Dari visum luar, janin di duga berusia 5 bulan. Janin diperkirakan baru dikubur belum lama, karena belum membusuk. Kalau pelakunya masih belum diketahui," kata Kapolsek Manguharjo, Kompol Agus Hariyanto saat dihubungi melalui telefon.
Terkait kasus penemuan mayat janin ini, pihak Polres Madiun Kota masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, termasuk dua penjaga jasa penitipan kendaraan, yang hanya berjarak beberapameter dari tkp yang saat kejadian sedang bertugas menunggu kendaraan. | beritajatim.com
Langganan:
Postingan (Atom)



















