Malaysia Usulkan Indonesia Gunakan Bahasa Melayu - Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia YB Dato� Seri Utama Dr Rais Yatim mengatakan, Malaysia-Indonesia adalah daun dari satu pohon yang sama.
"Karena itu, sangat baik jika kita menggunakan bahasa Melayu karena itu sama dengan membangun bangsa," kata Rais Yatim dalam jamuan makan dengan Iswami, di Peninsula, Kamis (7/2/2013) malam.
Menurut Rais Yatim, jika melihat akar sejarah, Indonesia, Malaysia, dan Singapura adalah satu rumpun. Karena itu, banyak persamaan yang ditemui sebab percampuran sudah terjadi lama.
"Sekarang saya melihat penggunaan kata-kata bahasa Melayu banyak disisipi bahasa Inggris, bahkan mereka enggan menggunakan bahasa Melayu," kata Menteri Rais Yatim.
Hal inilah, katanya, yang harus dikembalikan pada yang seharusnya, yaitu menggunakan bahasa Melayu, karena akan menguatkan kesatuan kita.
Ia mencontohkan, Amerika dan Inggris merasa dekat karena sama-sama menggunakan bahasa Inggris. Jadi, Indonesia-Malaysia harus menggunakan bahasa Melayu.
Menteri Rais Yatim juga menyampaikan terima kasih karena bisa hadir dalam acara makan malam bersama Iswami, atas upaya Gubernur Sulut yang mengundangnya ikut dalam acara tersebut.
Ia berharap dengan adanya hubungan ini, bukan hanya pemerintah, melainkan juga lebih banyak program kebersamaan kepada masyarakat. | memobee.com
Tampilkan postingan dengan label Perang Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang Malaysia. Tampilkan semua postingan
Minggu, 17 Maret 2013
Kamis, 14 Maret 2013
Taukah Anda? Malaysia Adalah Negara Tamak Yang Selalu Merebut Daerah Tetangganya
Taukah Anda? Malaysia Adalah Negara Tamak Yang Selalu Merebut Daerah Tetangganya - Negeri jiran Malaysia kini tengah bersitegang dengan pengikut Kesultanan Sulu, Filipina untuk memperebutkan daerah Sabah dan Serawak. Untuk mempertahankan wilayahnya, Malaysia mengerahkan pasukan elitenya dan jet tempur setelah beberapa kali digempur pengikut Sultan Sulu.
Kesultanan Sulu berpendapat selama ini Malaysia telah menyewa Sabah dan Serawak seharga 5.300 ringgit saban tahun. Namun kali ini, dia menuntut Malaysia segera mengembalikan daerah itu kepada Kesultanan Sulu dan memberikan ganti rugi atas segala kerusakan dan klaim selama ini.
Bukan kali ini saja Malaysia bertikai soal perbatasan, masih lekang dalam ingatan bagaimana jumawanya Malaysia saat berhasil mengambil pulau Ambalat dan Ligitan dari Indonesia pada tahun 2002 silam. Sengketa bukan hanya terjadi antara Malaysia dan Indonesia atau Malaysia-Filipina, pada kenyataannya Malaysia juga beberapa kali 'berebut' wilayah dengan negara-negara lainnya.
Berikut adalah negara-negara yang pernah bersengketa dengan malaysia:
1. Malaysia vs Thailand
Wilayah Teluk Thailand adalah konflik perbatasan yang paling mencolok antara negeri gajah putih dan negeri jiran ini. Saat itu Thailand mengklaim bahwa wilayahnya membentang hingga Kualat Tabar,Ko Losin Islet sampai ke Ko Kra yang didasarkan dari perjanjian Anglo-Siamese Treaty tahun 1909.
Namun Malaysia tidak terima, menurutnya daerah Ko Losin Islet tidak dihitung menjadi wilayah Thailand jika dihitung dari batas terluar pantai. Sengeta ini berakhir dengan damai lewat MoU bahkan keduanya berkomitmen melakukan pengembangan dan eksplorasi terhadap daerah yang
dulu mereka sengketakan.
Namun satu sengketa perbatasan antara dua negara belum sepenuhnya tuntas. Sengketa ini muncul pada tahun 1909 namun hingga kini negosiasi masih berlangsung alot. Pemerintah Malaysia menganggap bukit yang terletak di antara dua negara dan merupakan hulu dari sungai Golok
seyogianya milik Malaysia.
Alasannya sederhana, Malaysia berkilah bahwa sulit bernegosiasi dengan Thailand karena kondisi geografis bukit Jeli telah berubah dari sebelumnya.
2. Malaysia vs Brunei
Perselisihan perbatasan juga terjadi dengan Brunei Darusalam. Kendati punya kedekatan budaya namun sengketa perbatasan yang semakin berlarut membuat hubungan keduanya merenggang sehingga tabu untuk membicarakan masalah perbatasan di kedua negara ini.
Salah satunya daerah Limbang, daerah ini pada mulanya dikendalikan oleh kerajaan Serawak, kemudian diklaim oleh Brunei karena sebenarnya secara geografis wilayah merupakan milik Brunei. Tak terima, akhirnya untuk menegaskan kepemilikan, Malaysia memasukkan daerah ini ke petanya
pada tahun 1979.
Negosiasi pun berjalan alot sampai akhirnya Malaysia tetap menganggap daerah ini sebagai miliknya, hal itu ditandai oleh penandatanganan the Exchange of Letters pada 16 Maret 2009 oleh Sultan Hasan Bolkiah dan perdana menteri Abdullah Ahmad Badawi.
Sengketa lainnya datang dari perairan Brunei dan Malaysia. Berdasarkan zona ekonomi ekslusif dalam keputusan Dewan Internasional 1958, wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) melingkupi selatan perairan selatan Borneo. Namun di tahun 1979 justru Malaysia mengeluarkan batas teritorial yang merupakan wilayah ZEE milik Brunei.
Tak terima, di tahun 2003 kapal perang Brunei mengusir kapal pengolah minyak dari tempat ini. Sebagai balasan, Malaysia mengirim angkatan laut untuk memblokade kapal perang Brunei. Brunei semakin sering melakukan patroli hingga tidak ada lagi kapal menggali minyak.
3. Malaysia vs Filipina
Selain bersengketa dengan kesultanan Sulu terkait daerah Serawak dan Sabah, Malaysia dan Filipina pernah sebelumnya bertikai soal pulau Spartly. Pulau Spartly diklaim Filipina sebagai miliknya namun bukan hanya Filipina, Taiwan, Malaysia, Brunei juga turut memperebutkan pulau ini.
Klaim kepemilikan Malaysia tersebut berdasarkan United NationsConvention on the Law of the Sea's 200-nautical-mile (370 km), dengandasar aturan itu mereka pun memasukkan pulau ini ke dalam peta nasionalmereka.
Sedangkan Filipna mengklaim Spratly Island atau yg dikenal sebagaipulau Kalayan didasarkan dari letak geografisnya. Tak mau diklaimsembarangan, Filipina mengeluarkan? Dekrit Presiden Ferdinand Marcospada 11 juni 1978. Kemudian klaim ini diperkuat dengan? the PhilippinesArchipelagic Baselines Act Filipina yang ditandatangani oleh GloriaMacapagal-Arroyo pada 11 Maret 2009.
4. Malaysia vs Singapura
Hubungan bilateral antara Singapura dan Malaysia terbilang rumit, salah satunya soal permasalahan perbatasan di Pedra Branca atau Pulau Batu Puteh. Pada awalnya komplain datang dari Malaysia soal klaim Pedra Branca oleh Singapura. Malaysia pun membawa bantahannya ke meja Mahkamah Internasional di Hamburg pada 4 September 2003.
Batu Puteh yang terletak di Selat Singapura dan tenggara Johor, Malaysia akhirnya jatuh ke tangan Singapura dengan dasar teritorial perairan pada tanggal 23 Mei 2008.
5. Malaysia vs Indonesia
Konflik perbatasan antara Indonesia dan Malaysia terjadi di laut Sulawesi. Keduanya mengklaim pulau Ambalat, Sipadan dan Ligitan sebagai miliknya. Sengketa perbatasan ini berawal pada tahun 1969, negosiasi terus berlangsung alot.
Saat itu Indonesia berargumen bahwa pulau ini milik Indonesia dengan dasar jika menarik garis lurus dan memajukan koordinat 4? 10' arah utara melewati pulau Sebatik hingga ke pulau Sebatik. Sedangkan Malaysia mengklaim wilayah terirorial jika ditarik garis dari lintang selatan maka dua pulau itu masuk ke dalamnya, klaim ini disahkan sendiri dengan memasukkan dua pulau tersebut ke peta Malaysia pada tahun 1979. Indonesia pun protes.
Sengketa perbatasan ini dibawa ke Mahkamah Internasional pada 17 Desember 2002. Mahkamah Internasional memutuskan pulau Ambalat, Sipadan dan Ligitan milik Malaysia dengan dasar sejarah pulau tersebut yaitu Malaysia telah terlebih dulu 'mengurusnya' sejak zaman kolonial. Persoalan ini sebenarnya masih belum selesai apalagi Mahkamah Internasional tidak memutuskan ini dari sudut pandang kekayaan alam yang dimiliki tiga pulau tersebut.
Sebelumnya, keduanya juga sama-sama telah melakukan eksplorasi minyak di Ambalat, Indonesia misalnya melalui perusahaan minyak Italia, ENI di tahun 1999. Sedangkan Malaysia dikelola oleh Petronas. Konflik perbatasan sempat juga memicu tensi keduanya dengan insiden dua kapal perang saling berhadap-hadapan.
Selain tiga pulau tersebut, ada juga Tanjung Berakit, Bintan. Hal itu bermula dari nelayan Indonesia yang ditangkap di Tanjung Berakit karena dianggap masuk wilayah Malaysia. GPS yang dijadikan rujukan mereka menunjukkan wilayah tersebut masuk ke dalam Kota Tinggi, Johor mereka pun menahan para nelayan itu. Baik Indonesia dan Malaysia sama-sama, belum memutuskan wilayah ini. Indonesia mengatakan bahwa batasan di wilayah ini masih mau dibicarakan namun Malaysia justru mengklaim wilayah ini miliknya dengan dasar aturan teritorial tahun 1979 yang sebenarnya tidak cukup kuat. | wisbenbae.blogspot.com
Kesultanan Sulu berpendapat selama ini Malaysia telah menyewa Sabah dan Serawak seharga 5.300 ringgit saban tahun. Namun kali ini, dia menuntut Malaysia segera mengembalikan daerah itu kepada Kesultanan Sulu dan memberikan ganti rugi atas segala kerusakan dan klaim selama ini.
Bukan kali ini saja Malaysia bertikai soal perbatasan, masih lekang dalam ingatan bagaimana jumawanya Malaysia saat berhasil mengambil pulau Ambalat dan Ligitan dari Indonesia pada tahun 2002 silam. Sengketa bukan hanya terjadi antara Malaysia dan Indonesia atau Malaysia-Filipina, pada kenyataannya Malaysia juga beberapa kali 'berebut' wilayah dengan negara-negara lainnya.
Berikut adalah negara-negara yang pernah bersengketa dengan malaysia:
1. Malaysia vs Thailand
Wilayah Teluk Thailand adalah konflik perbatasan yang paling mencolok antara negeri gajah putih dan negeri jiran ini. Saat itu Thailand mengklaim bahwa wilayahnya membentang hingga Kualat Tabar,Ko Losin Islet sampai ke Ko Kra yang didasarkan dari perjanjian Anglo-Siamese Treaty tahun 1909.
Namun Malaysia tidak terima, menurutnya daerah Ko Losin Islet tidak dihitung menjadi wilayah Thailand jika dihitung dari batas terluar pantai. Sengeta ini berakhir dengan damai lewat MoU bahkan keduanya berkomitmen melakukan pengembangan dan eksplorasi terhadap daerah yang
dulu mereka sengketakan.
Namun satu sengketa perbatasan antara dua negara belum sepenuhnya tuntas. Sengketa ini muncul pada tahun 1909 namun hingga kini negosiasi masih berlangsung alot. Pemerintah Malaysia menganggap bukit yang terletak di antara dua negara dan merupakan hulu dari sungai Golok
seyogianya milik Malaysia.
Alasannya sederhana, Malaysia berkilah bahwa sulit bernegosiasi dengan Thailand karena kondisi geografis bukit Jeli telah berubah dari sebelumnya.
2. Malaysia vs Brunei
Perselisihan perbatasan juga terjadi dengan Brunei Darusalam. Kendati punya kedekatan budaya namun sengketa perbatasan yang semakin berlarut membuat hubungan keduanya merenggang sehingga tabu untuk membicarakan masalah perbatasan di kedua negara ini.
Salah satunya daerah Limbang, daerah ini pada mulanya dikendalikan oleh kerajaan Serawak, kemudian diklaim oleh Brunei karena sebenarnya secara geografis wilayah merupakan milik Brunei. Tak terima, akhirnya untuk menegaskan kepemilikan, Malaysia memasukkan daerah ini ke petanya
pada tahun 1979.
Negosiasi pun berjalan alot sampai akhirnya Malaysia tetap menganggap daerah ini sebagai miliknya, hal itu ditandai oleh penandatanganan the Exchange of Letters pada 16 Maret 2009 oleh Sultan Hasan Bolkiah dan perdana menteri Abdullah Ahmad Badawi.
Sengketa lainnya datang dari perairan Brunei dan Malaysia. Berdasarkan zona ekonomi ekslusif dalam keputusan Dewan Internasional 1958, wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) melingkupi selatan perairan selatan Borneo. Namun di tahun 1979 justru Malaysia mengeluarkan batas teritorial yang merupakan wilayah ZEE milik Brunei.
Tak terima, di tahun 2003 kapal perang Brunei mengusir kapal pengolah minyak dari tempat ini. Sebagai balasan, Malaysia mengirim angkatan laut untuk memblokade kapal perang Brunei. Brunei semakin sering melakukan patroli hingga tidak ada lagi kapal menggali minyak.
3. Malaysia vs Filipina
Selain bersengketa dengan kesultanan Sulu terkait daerah Serawak dan Sabah, Malaysia dan Filipina pernah sebelumnya bertikai soal pulau Spartly. Pulau Spartly diklaim Filipina sebagai miliknya namun bukan hanya Filipina, Taiwan, Malaysia, Brunei juga turut memperebutkan pulau ini.
Klaim kepemilikan Malaysia tersebut berdasarkan United NationsConvention on the Law of the Sea's 200-nautical-mile (370 km), dengandasar aturan itu mereka pun memasukkan pulau ini ke dalam peta nasionalmereka.
Sedangkan Filipna mengklaim Spratly Island atau yg dikenal sebagaipulau Kalayan didasarkan dari letak geografisnya. Tak mau diklaimsembarangan, Filipina mengeluarkan? Dekrit Presiden Ferdinand Marcospada 11 juni 1978. Kemudian klaim ini diperkuat dengan? the PhilippinesArchipelagic Baselines Act Filipina yang ditandatangani oleh GloriaMacapagal-Arroyo pada 11 Maret 2009.
4. Malaysia vs Singapura
Hubungan bilateral antara Singapura dan Malaysia terbilang rumit, salah satunya soal permasalahan perbatasan di Pedra Branca atau Pulau Batu Puteh. Pada awalnya komplain datang dari Malaysia soal klaim Pedra Branca oleh Singapura. Malaysia pun membawa bantahannya ke meja Mahkamah Internasional di Hamburg pada 4 September 2003.
Batu Puteh yang terletak di Selat Singapura dan tenggara Johor, Malaysia akhirnya jatuh ke tangan Singapura dengan dasar teritorial perairan pada tanggal 23 Mei 2008.
5. Malaysia vs Indonesia
Konflik perbatasan antara Indonesia dan Malaysia terjadi di laut Sulawesi. Keduanya mengklaim pulau Ambalat, Sipadan dan Ligitan sebagai miliknya. Sengketa perbatasan ini berawal pada tahun 1969, negosiasi terus berlangsung alot.
Saat itu Indonesia berargumen bahwa pulau ini milik Indonesia dengan dasar jika menarik garis lurus dan memajukan koordinat 4? 10' arah utara melewati pulau Sebatik hingga ke pulau Sebatik. Sedangkan Malaysia mengklaim wilayah terirorial jika ditarik garis dari lintang selatan maka dua pulau itu masuk ke dalamnya, klaim ini disahkan sendiri dengan memasukkan dua pulau tersebut ke peta Malaysia pada tahun 1979. Indonesia pun protes.
Sengketa perbatasan ini dibawa ke Mahkamah Internasional pada 17 Desember 2002. Mahkamah Internasional memutuskan pulau Ambalat, Sipadan dan Ligitan milik Malaysia dengan dasar sejarah pulau tersebut yaitu Malaysia telah terlebih dulu 'mengurusnya' sejak zaman kolonial. Persoalan ini sebenarnya masih belum selesai apalagi Mahkamah Internasional tidak memutuskan ini dari sudut pandang kekayaan alam yang dimiliki tiga pulau tersebut.
Sebelumnya, keduanya juga sama-sama telah melakukan eksplorasi minyak di Ambalat, Indonesia misalnya melalui perusahaan minyak Italia, ENI di tahun 1999. Sedangkan Malaysia dikelola oleh Petronas. Konflik perbatasan sempat juga memicu tensi keduanya dengan insiden dua kapal perang saling berhadap-hadapan.
Selain tiga pulau tersebut, ada juga Tanjung Berakit, Bintan. Hal itu bermula dari nelayan Indonesia yang ditangkap di Tanjung Berakit karena dianggap masuk wilayah Malaysia. GPS yang dijadikan rujukan mereka menunjukkan wilayah tersebut masuk ke dalam Kota Tinggi, Johor mereka pun menahan para nelayan itu. Baik Indonesia dan Malaysia sama-sama, belum memutuskan wilayah ini. Indonesia mengatakan bahwa batasan di wilayah ini masih mau dibicarakan namun Malaysia justru mengklaim wilayah ini miliknya dengan dasar aturan teritorial tahun 1979 yang sebenarnya tidak cukup kuat. | wisbenbae.blogspot.com
Selasa, 12 Maret 2013
Sultan Sulu: Malaysia Curi Sabah dari Kami, Mereka Cuma Sewa
Sultan Sulu: Malaysia Curi Sabah dari Kami, Mereka Cuma Sewa - Konflik memperebutkan wilayah Sabah antara Malaysia dan Kesultanan Sulu Filipina masih meletup. Pemerintah Malaysia menuding mereka gerakan separatis. Namun, Jamal Kiram III yang mengaku-aku sebagai sultan Sulu menegaskan pertempuran itu sebagai upaya merebut kembali Sabah dan Serawak dari kekuasaan Malaysia.
Perdana Menteri Najib Razak menyatakan pintu perundingan tertutup. Jika ini berlaku, Sultan Sulu Mudarasulail Alasatam Kiram (sultan Sulu sah) menegaskan Malaysia harus mengembalikan Sabah dan Serawak kepada mereka. �Sabah dan Serawak adalah milik Kesultanan Sulu dan selama ini Malaysia menyewa dari kami,� kata Mudarasulail
Dia menegaskan Jamalul Kiram III bukan sultan Sulu. �Dia paman saya, sepupu dari ayah saya.�
Berikut wawancara dengan Sultan Mudarasulail:
Apa komentar Anda terhadap konflik di Lahad Datu?
Saya sangat sedih karena muslim bertempur bertempur melawan muslim. Ini tidak islami. Kenapa harus berperang, semua bisa dirundingkan.
Apa memang benar ada sengketa wilayah antara Kesultanan Sulu dan Malaysia?
Memang benar ada sengketa wilayah antara kami dan pemerintah Malaysia. Sabah dan Serawak adalah milik Kesultanan Sulu dan selama ini Malaysia menyewa dari kami. Uang sewanya 5.300 ringgit saban tahun dan itu sangat kecil. Apalagi, Malaysia sudah tidak mau lagi membayar uang sewa itu. Kalau memang sudah tidak mau menyewa, Malaysia harus mengembalikan wilayah Sabah kepada kami. Kalau mereka tidak mau, kami akan meminta pihak ketiga menengahi konflik ini.
Jadi Sabah dan Serawak memang kepunyaan Sulu?
Sabah dan Serawak memang milik Kesultanan Sulu sebelum Malaysia mendapat kemerdekaan dari Inggris. Mereka telah mencuri wilayah kami.
Lalu apa akan Anda tempuh?
Kami ingin sebuah penyelesaian sama-sama menyenangkan. Jika Malaysia tidak ingin menyewa lagi maka mereka harus menyerahkan Sabah kepada kami. Kami juga tidak keberatan bila Malaysia masih mau menyewa. Kami gterbuka buat berdialog. Namun, kalau mereka menolak, kami akan bawa masalah ini ke Mahkamah Internasional.
Kalau Malaysia ingin menyewa, berapa seharusnya mereka bayar tiap tahun?
Uang sewa 5.300 ringgit per tahun sangat murah. Itu tidak adil dan islami.
Jadi berapa seharusnya?
Kami tidak ingin hanya bicara soal uang. Mereka harus mengakui Sabah dan Serawak adalah milik Kesultanan Sulu. Mereka telah merusak warisan sejarah kami, mereka harus mengganti itu.
Bagaimana kalau Malaysia masih ingin menyewa?
Saya harus lebih dulu memiliki perjanjian kontrak dengan pemerintah Malaysia, jadi semua jelas.
Jika itu sudah tercapai, berapa mereka harus bayar?
Mereka harus membayar uang sewa tahunan sebesar setengah dari total pendapatan wilayah Sabah dan Serawak.
Berapa lama Anda akan menyewakan Sabah dan Serawak kepada Malaysia?
Hanya sepuluh tahun. Selepas itu, mereka harus mengembalikan kepada kami.
Apakah benar Jamal Kiram sultan Sulu palsu?
Dia adalah paman saya, sepupu dari ayah saya, sultan Sulu sebelumnya. Jadi, tidak mungkin dia menjadi sultan. Saya adalah sultan Sulu yang sah.
Jadi Anda menangkap dia karena telah mengaku sebagai sultan Sulu?
Saya tidak mungkin menangkap dia karena dia paman saya.
Apa jabatan Jamal dalam Kesultanan Sulu?
Dia hanya warga biasa, tidak ada jabatan apa-apa, baik di parlemen atau pemerintahan.
Jadi yang bertempur di Lahad Datu bukan pasukan Anda?
Bukan, mereka itu orang-orang Sulu suruhan Jamal.
Perdana Menteri Najib Razak menyatakan pintu perundingan tertutup. Jika ini berlaku, Sultan Sulu Mudarasulail Alasatam Kiram (sultan Sulu sah) menegaskan Malaysia harus mengembalikan Sabah dan Serawak kepada mereka. �Sabah dan Serawak adalah milik Kesultanan Sulu dan selama ini Malaysia menyewa dari kami,� kata Mudarasulail
Dia menegaskan Jamalul Kiram III bukan sultan Sulu. �Dia paman saya, sepupu dari ayah saya.�
Berikut wawancara dengan Sultan Mudarasulail:
Apa komentar Anda terhadap konflik di Lahad Datu?
Saya sangat sedih karena muslim bertempur bertempur melawan muslim. Ini tidak islami. Kenapa harus berperang, semua bisa dirundingkan.
Apa memang benar ada sengketa wilayah antara Kesultanan Sulu dan Malaysia?
Memang benar ada sengketa wilayah antara kami dan pemerintah Malaysia. Sabah dan Serawak adalah milik Kesultanan Sulu dan selama ini Malaysia menyewa dari kami. Uang sewanya 5.300 ringgit saban tahun dan itu sangat kecil. Apalagi, Malaysia sudah tidak mau lagi membayar uang sewa itu. Kalau memang sudah tidak mau menyewa, Malaysia harus mengembalikan wilayah Sabah kepada kami. Kalau mereka tidak mau, kami akan meminta pihak ketiga menengahi konflik ini.
Jadi Sabah dan Serawak memang kepunyaan Sulu?
Sabah dan Serawak memang milik Kesultanan Sulu sebelum Malaysia mendapat kemerdekaan dari Inggris. Mereka telah mencuri wilayah kami.
Lalu apa akan Anda tempuh?
Kami ingin sebuah penyelesaian sama-sama menyenangkan. Jika Malaysia tidak ingin menyewa lagi maka mereka harus menyerahkan Sabah kepada kami. Kami juga tidak keberatan bila Malaysia masih mau menyewa. Kami gterbuka buat berdialog. Namun, kalau mereka menolak, kami akan bawa masalah ini ke Mahkamah Internasional.
Kalau Malaysia ingin menyewa, berapa seharusnya mereka bayar tiap tahun?
Uang sewa 5.300 ringgit per tahun sangat murah. Itu tidak adil dan islami.
Jadi berapa seharusnya?
Kami tidak ingin hanya bicara soal uang. Mereka harus mengakui Sabah dan Serawak adalah milik Kesultanan Sulu. Mereka telah merusak warisan sejarah kami, mereka harus mengganti itu.
Bagaimana kalau Malaysia masih ingin menyewa?
Saya harus lebih dulu memiliki perjanjian kontrak dengan pemerintah Malaysia, jadi semua jelas.
Jika itu sudah tercapai, berapa mereka harus bayar?
Mereka harus membayar uang sewa tahunan sebesar setengah dari total pendapatan wilayah Sabah dan Serawak.
Berapa lama Anda akan menyewakan Sabah dan Serawak kepada Malaysia?
Hanya sepuluh tahun. Selepas itu, mereka harus mengembalikan kepada kami.
Apakah benar Jamal Kiram sultan Sulu palsu?
Dia adalah paman saya, sepupu dari ayah saya, sultan Sulu sebelumnya. Jadi, tidak mungkin dia menjadi sultan. Saya adalah sultan Sulu yang sah.
Jadi Anda menangkap dia karena telah mengaku sebagai sultan Sulu?
Saya tidak mungkin menangkap dia karena dia paman saya.
Apa jabatan Jamal dalam Kesultanan Sulu?
Dia hanya warga biasa, tidak ada jabatan apa-apa, baik di parlemen atau pemerintahan.
Jadi yang bertempur di Lahad Datu bukan pasukan Anda?
Bukan, mereka itu orang-orang Sulu suruhan Jamal.
Sumber. jadiberita.com
Senin, 11 Maret 2013
Sultan Sulu Akan Minta Bantuan Indonesia Untuk Rebut Sabah Dari Malaysia
Sultan Sulu Akan Minta Bantuan Indonesia Untuk Rebut Sabah Dari Malaysia - Sultan Sulu Mudarasulail Alatasam Kiram berencana meminta bantuan pemerintah Indonesia guna merebut kembali wilayah Sabah dan Serawak dari Malaysia.
"Kami memang memiliki rencana meminta bantuan Indonesia dalam kasus ini," kata Sultan Mudarasulail saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya, Senin (11/3).
Namun dia menolak menjelaskan lebih lanjut dengan alasan perkara ini sangat sensitif. "Kami sedang berembuk di Zamboanga (kota di selatan Filipina). Dia meminta dihubungi kembali nanti malam".
Selain meminta bantuan negara ketiga, dia berniat mengadukan masalah ini ke Mahkamah Internasional. Indonesia pernah memiliki pengalaman pahit dalam hal ini. Pengadilan internasional itu pada 2002 memutuskan pulau Sipadan dan Ligitan adalah milik Malaysia.
Konflik bersenjata di Lahad Datu selama hampir sebulan telah menewaskan lebih dari 60 orang. Pertikaian ini dipicu oleh saling klaim antara Kesultanan Sulu dan pemerintah Malaysia atas wilayah di utara Pulau Kalimantan itu.
Menurut dia, selama ini Malaysia telah menyewa Sabah dan Serawak 5.300 ringgit saban tahun. Namun kali ini, dia menuntut negara jiran itu segera mengembalikan daerah itu kepada Kesultanan Sulu dan memberikan ganti rugi atas segala kerusakan dan klaim selama ini.
Sengketa ini sangat mungkin berlanjut lantaran Perdana Menteri Malaysia Najib Razak telah menegaskan pintu perundingan sudah ditutup. Dia juga menyatakan klain oleh orang-orang Sulu terhadap Sabah dan Serawak merupakan gerakan separatis. | merdeka.com
"Kami memang memiliki rencana meminta bantuan Indonesia dalam kasus ini," kata Sultan Mudarasulail saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya, Senin (11/3).
Namun dia menolak menjelaskan lebih lanjut dengan alasan perkara ini sangat sensitif. "Kami sedang berembuk di Zamboanga (kota di selatan Filipina). Dia meminta dihubungi kembali nanti malam".
Selain meminta bantuan negara ketiga, dia berniat mengadukan masalah ini ke Mahkamah Internasional. Indonesia pernah memiliki pengalaman pahit dalam hal ini. Pengadilan internasional itu pada 2002 memutuskan pulau Sipadan dan Ligitan adalah milik Malaysia.
Konflik bersenjata di Lahad Datu selama hampir sebulan telah menewaskan lebih dari 60 orang. Pertikaian ini dipicu oleh saling klaim antara Kesultanan Sulu dan pemerintah Malaysia atas wilayah di utara Pulau Kalimantan itu.
Menurut dia, selama ini Malaysia telah menyewa Sabah dan Serawak 5.300 ringgit saban tahun. Namun kali ini, dia menuntut negara jiran itu segera mengembalikan daerah itu kepada Kesultanan Sulu dan memberikan ganti rugi atas segala kerusakan dan klaim selama ini.
Sengketa ini sangat mungkin berlanjut lantaran Perdana Menteri Malaysia Najib Razak telah menegaskan pintu perundingan sudah ditutup. Dia juga menyatakan klain oleh orang-orang Sulu terhadap Sabah dan Serawak merupakan gerakan separatis. | merdeka.com
Kamis, 07 Maret 2013
Inilah Dokumen Bukti Bahwa Malaysia Hanya Penyewa Wilayah Sabah
Inilah Dokumen Bukti Bahwa Malaysia Hanya Penyewa Wilayah Sabah - Konflik sabah antara Pemerintah Malaysia dan Kesultanan Sulu menyisakan pertanyaan penting berupa status wilayah Sabah yang disengketakan. Jika benar itu adalah milik Malaysia, mengapa pihak Kuala Lumpur menyetorkan uang sewa tahunan kepada Kesultanan Sulu? Sabah yang terletak di Borneo Utara merupakan daerah yang kaya sumber daya alam, terutama minyak. Namun kehidupan masyarakat di wilayah ini tidak menyiratkan hasil kekayaan alam yang melimpah ruah. Sabah, Serawak dan Brunei merupakan wilayah-wilayah yang saling berdekatan.
Brunei adalah sebuah negara kecil dengan kekayaan minyak melimpah. Hasilnya bisa kita lihat pada pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Sementara itu, Sabah dan Serawak yang secara adminstasi masuk ke wilayah Malaysia menjadi tumpuan kelancaran urusan ekonomi di negeri jiran ini.
Namun jika dibandingkan dengan Brunei, keadaan di kedua wilayah ini sangat jauh berbeda. Tapi benarkah kekayaan alam di Sabah menjadi milik Malaysia? Ada banyak pertikaian pendapat yang menuntut wilayah Sabah dari Malaysia, dan sudah bisa dipastikan bahwa ini masalah minyak bumi.
Jika benar wilayah Sabah termasuk dalam otoritas Malaysia, mengapa kedutaan Malaysia masih harus menyetorkan pajak tahunan kepada Kesultanan Sulu? Persoalan setoran pajak ini menggulirkan wacana perihal pemilik wilayah Sabah yang sah. Masalah pajak tersebut pernah diungkapkan oleh YB Lim Kit Siang, DAP di parlemen Malaysia.
Lalu bagaimana sebenarnya sejarah dari wilayah Sabah? Di tahun 1658, Sabah atau Borneo Utara bersama Pulau Palawan dan kepulauan Spratly merupakan hadiah yang diberikan Sultan Brunei kepada Sultan Sulu. Hadiah tersebut merupakan penghargaan atas jasa-jasa Sultan Sulu yang berhasil mencegah perang saudara di Borneo. Sejak itulah wilayah-wilayah tersebut termasuk dalam Kesultanan Sulu.
Masalahnya, di tahun yang sama, para penyewa ilegal yang berasal dari Malaysia juga menghuni kawasan tersebut hingga saat ini. Di tahun 1878, HM Sultan Jamalul Ahlam Kiram (Sultan Sulu dan Sabah), sebagai pemilik sah, menyewakan wilayah tersebut kepada Perusahaan Inggris melalui Gustavus Baron de Overbeck dan Alfred Dent.
Jumlah uang sewa tahunan tersebut adalah 5000 dolar Meksiko atau sekitar 20 juta dolar. Nah, setiap pembayaran harus disahkan terlebih dahulu oleh Kesultanan Sulu. Berikut ini adalah Dokumen Bukti Bahwa Malaysia Hanya Penyewa Wilayah Sabah ;
Setelah pemerintah kolonial hengkang dari bumi melayu, sewa tersebut dialihkan ke Malaysia di tahun 1963. Hal ini jelas melanggar hukum karena seharusnya wilayah tersebut dikembalikan kepada pemilik sah, yaitu Kesultanan Sulu.
Selain itu, perjanjian sewa menyewa tersebut otomatis dianggap berakhir ketika pihak awal yang menyewa sudah meninggal. Akibatnya, Sabah harus dikembalikan kepada pihak penyewa yang dalam posisi ini adalah Kesultanan Sulu. Masalah antara Malaysia dan Kesultanan Sulu ini seakan mengendap bertahun-tahun hingga akhirnya kelompok bersenjata dari Sulu menduduki Sabah.
Konflik tersebut menelan korban jiwa dari kedua belah pihak. Sementara itu, Pemerintah Filipina terkesan menahan diri untuk tidak terlibat langsung dalam konflik yang sebenarnya melibatkan sebagian warga negaranya.
Dari pihak Malaysia, ada semacam kekhawatiran bahwa hal yang pernah terjadi pada Pulau Batu Putih akan menimpa wilayah Sabah. Sebelumnya, Pulau Batu Putih akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Singapura.
Bahkan, kejadian beberapa minggu terakhir ini bisa membuka peluang terbukanya pintu sejarah baru bagi masyarakat Sabah dan Kesultanan Sulu. Adanya dokumen-dokumen yang berisi surat perjanjian setoran pajak pemerintah Malaysia kepada Kesultanan Sulu juga mencirikan kemiripan dengan masa kolonial Inggris.
Ketika Kerajaan Inggris di masa lalu menyetorkan pajak tahunan kepada raja-raja Melayu. Jika ini memang benar, tidak mustahil kalau rakyat Sabah akan menuntut kemerdekaan dari Malaysia. | uniqpost.com
Brunei adalah sebuah negara kecil dengan kekayaan minyak melimpah. Hasilnya bisa kita lihat pada pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Sementara itu, Sabah dan Serawak yang secara adminstasi masuk ke wilayah Malaysia menjadi tumpuan kelancaran urusan ekonomi di negeri jiran ini.
Namun jika dibandingkan dengan Brunei, keadaan di kedua wilayah ini sangat jauh berbeda. Tapi benarkah kekayaan alam di Sabah menjadi milik Malaysia? Ada banyak pertikaian pendapat yang menuntut wilayah Sabah dari Malaysia, dan sudah bisa dipastikan bahwa ini masalah minyak bumi.
Jika benar wilayah Sabah termasuk dalam otoritas Malaysia, mengapa kedutaan Malaysia masih harus menyetorkan pajak tahunan kepada Kesultanan Sulu? Persoalan setoran pajak ini menggulirkan wacana perihal pemilik wilayah Sabah yang sah. Masalah pajak tersebut pernah diungkapkan oleh YB Lim Kit Siang, DAP di parlemen Malaysia.
Lalu bagaimana sebenarnya sejarah dari wilayah Sabah? Di tahun 1658, Sabah atau Borneo Utara bersama Pulau Palawan dan kepulauan Spratly merupakan hadiah yang diberikan Sultan Brunei kepada Sultan Sulu. Hadiah tersebut merupakan penghargaan atas jasa-jasa Sultan Sulu yang berhasil mencegah perang saudara di Borneo. Sejak itulah wilayah-wilayah tersebut termasuk dalam Kesultanan Sulu.
Masalahnya, di tahun yang sama, para penyewa ilegal yang berasal dari Malaysia juga menghuni kawasan tersebut hingga saat ini. Di tahun 1878, HM Sultan Jamalul Ahlam Kiram (Sultan Sulu dan Sabah), sebagai pemilik sah, menyewakan wilayah tersebut kepada Perusahaan Inggris melalui Gustavus Baron de Overbeck dan Alfred Dent.
Jumlah uang sewa tahunan tersebut adalah 5000 dolar Meksiko atau sekitar 20 juta dolar. Nah, setiap pembayaran harus disahkan terlebih dahulu oleh Kesultanan Sulu. Berikut ini adalah Dokumen Bukti Bahwa Malaysia Hanya Penyewa Wilayah Sabah ;
Setelah pemerintah kolonial hengkang dari bumi melayu, sewa tersebut dialihkan ke Malaysia di tahun 1963. Hal ini jelas melanggar hukum karena seharusnya wilayah tersebut dikembalikan kepada pemilik sah, yaitu Kesultanan Sulu.
Selain itu, perjanjian sewa menyewa tersebut otomatis dianggap berakhir ketika pihak awal yang menyewa sudah meninggal. Akibatnya, Sabah harus dikembalikan kepada pihak penyewa yang dalam posisi ini adalah Kesultanan Sulu. Masalah antara Malaysia dan Kesultanan Sulu ini seakan mengendap bertahun-tahun hingga akhirnya kelompok bersenjata dari Sulu menduduki Sabah.
Konflik tersebut menelan korban jiwa dari kedua belah pihak. Sementara itu, Pemerintah Filipina terkesan menahan diri untuk tidak terlibat langsung dalam konflik yang sebenarnya melibatkan sebagian warga negaranya.
Dari pihak Malaysia, ada semacam kekhawatiran bahwa hal yang pernah terjadi pada Pulau Batu Putih akan menimpa wilayah Sabah. Sebelumnya, Pulau Batu Putih akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Singapura.
Bahkan, kejadian beberapa minggu terakhir ini bisa membuka peluang terbukanya pintu sejarah baru bagi masyarakat Sabah dan Kesultanan Sulu. Adanya dokumen-dokumen yang berisi surat perjanjian setoran pajak pemerintah Malaysia kepada Kesultanan Sulu juga mencirikan kemiripan dengan masa kolonial Inggris.
Ketika Kerajaan Inggris di masa lalu menyetorkan pajak tahunan kepada raja-raja Melayu. Jika ini memang benar, tidak mustahil kalau rakyat Sabah akan menuntut kemerdekaan dari Malaysia. | uniqpost.com
Langganan:
Postingan (Atom)





